teraju.id, Pontianak – Hari Bahasa Ibu Internasional (HBII) kali ini begitu menyentak. Menghantam batin dan akal sehat. Sangat bergetar serasanya ingin luluh dan runtuh saking gemuruh.
Betapa tidak? Yang bicara adalah Kepala Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Barat Bapak Doni Septadijaya. Orang nomor satu BI di Borneo Barat. A-1.
Beliau bicara soal HBII dalam konteks diplomasi budaya melalui bahasa dan sastra. Bagaimana agar visi misi kemerdekaan melalui kesejahteraan rakyatnya bisa lepas dari yang namanya middle trap income. Jebakan kelas menengah.
“Kalau kita tak bisa membawa pendapatan perkapita Rp 15j per bulan per-KK, maka negara kita gagal menjadi negara maju selamanya!”
Sungguh keras. Menampar. Khususnya kepada kami pegiat kebudayaan, bahasa dan sastra. Bagaimana 400-an sub suku bahasa Dayak dan 20-an dialek Melayu Kalimantan Barat serta puluhan suku berdiam di sini bisa berkontribusi mendelivery beban tugas pembangunan sehingga leader dan follower bisa bergerak bersama mencapai tujuan kemerdekaan Indonesia bersama sama. Indonesia Emas 2045 yang tersisa 19 tahun saja lagi dari sekarang.
Bisakah bahasa ibu berpartisipasi? Jawabnya bisa! Optimis.
Rawe-rawe rantas…
Segala hambatan? Kibas. Libasss!
*
HBII yang jatuh setiap 21 Februari diperingati dari ihwal sejarah di Bengali. 1952. Sejumlah pemuda meregang nyawa demi memajukan bahasa ibu. Oleh Unesco (2022) sejarah pedih berdarah itu menjadi pengingat bahwa bahasa ibu kudu dilindungi. Sebab pengetahuan setiap anak didapat dari bahasa ibu yang pertama didominasi oleh bahasa daerah masing-masing.
Kepala Pusat Bahasa Ibu Dora Amalia melalui jalur virtual menabalkan pentingnya HBII diperingati. Seperti 21 Februari dimaknai di Gedung BI dengan 150 undangan memenuhi ruangan.
“Peringatan di Kalbar kali ini menunjukkan kolaborasi sejati antara Balai Bahasa dan BI serta GenBI, Duta Bahasa maupun tokoh adat dan budayawan daerah. Kita petik manfaat sejarah Bengali tanpa harus berdarah karena negara hadir melindungi bahasa ibu dengan trigatra bangun bahasa. Utamakan bahasa persatuan, lestarikan bahasa daerah dan kuasai bahasa asing.”

Pantun membahana di Gedung BI. Dimulai dari Master of Ceremony. Sepasang muda-mudi. Dilanjutkan Kepala Balai Bahasa Provinsi Ibu Dr Uniawati dan Kepala BI Pak Doni Septadijaya. Apalagi tiga narasumber masing-masing saya, Afifah dan Paturahman. Dua nama terakhir mewakili generasi muda Kalbar unsur Duta Bahasa dan GenBI. Bahkan pertanyaan peserta (Ibu Dara dan Sophian Sadikun) hingga penceramah buka puasa bersama Ustadz H Mahmud dari Kanwil Kementerian Agama banjir pantun. Tergelak tawa dengan level sopan santun.
Derai tawa penuh makna, bagaimana pantun yang egaliter, plural, majemuk bisa menggapai asa, rasa dan karsa bahasa ibu sebagai alat diplomasi budaya menggairahkan the right state. Beat spirit meraih Indonesia emas in the next 19th years!
Spirit nan gemuruh disejukkan dengan segelas rujak buah serta penganan buka puasa. Azan maghrib dan salat berjamaah serta dinner membuncah refleksi HBII yang spesial bulan edukasi Ramadhan.
Ke depan terbentang titik terang sebagai berikut. Pertama, kolaborasi elegan ini kudu ditingkatkan.
Kedua: bahasa ibu harus diberdayakan. Keterampilan berbahasa dan sastra termasuk sastra lisan pantun, dongeng, stand-up comedy, pidato, puisi, tundang. Totally mesti diperbanyak titik sentuhnya agar profesional. Ia bisa menjadi agenda ekonomi kreatif. Wisata halal lagi thoyib (baik bin berkah) serta mensejahterakan rakyat dimana kini sebagian masih melarat.
Ketiga: Kanwil Kemenag membina 70-an sekolah madrasah dan aliah. Membuka diri buat kerjasama Festival Pantun, Festival Tunas Bahasa Ibu dan pembinaan bahasa-sastra sebagaimana sekolah umum.
Keempat: BI selalu siap membersamai dengan Balai Bahasa serta Serumpun Berpantun-Bina Antarbudaya-Asosiasi Tradisi Lisan (Komunitas-komunitas). We are wide open.
Roadmap kita buat sejak 2020. Kini kita jalani dengan trik 2026 West Kalimantan Pantun Tourism Year. Kita galakkan sosialisasi Hari Raya Pantun (Nasional dan Dunia). Termasuk adagium Kalimantan Barat Provinsi Pantun dan Kota Pontianak Ibukota Pantun Dunia.
Kelima: Perlu Perda Perlindungan Bahasa Ibu sehingga ada langkah cerdas berupa payung hukum melindungi ladang emas peradaban bahasa yang berisi karakter bangsa, tradisi, seni, sejarah dan filsafat hidup rakyat tempatan. Sejauh ini baru Sanggau yang punya. 13 daerah tingkat dua se-Kalbar belum punya. Dari Perda akan terlindungi bahasa ibu secara terstruktur, massif dan sistematis.
Kalbar, hayyyo…
Bismillah.
Sejak 2020 WBTB Unesco, Serumpun Berpantun sudah move on. SB bertindak signifikan. Membawa pesan kemajuan peradaban.
Putri menari pakai pinggan
Pita hitam terbang ringan
Mari bersama singsingkan lengan.
Bersama kita bergandengan tangan. *
CP Serumpun Berpantun
08125710225
Nuris-No Risk
