teraju.id, Pontianak – Datanglah dua JurSastra dari SMAN Tetra. Bertanya apakah pantun dalam sejarahnya berperan membangun karakter bangsa? Wahhhh…hebats kedua anak remaja ini. Tinggi sekali rasa ingin tahunya. Dan jelas bukan generasi “tempe” tapi generasi “Tempo”. Sebuah majalah bacaan berat namun sastrawi.
*
JurSastra SMAN Tetra Pontianak sudah lekat dengan pantun sejak 2020. Saat komunitas pantun Kalbar berdjoeang. Berdjibakoe. Gotong royong bersama komunitas sastra lisan pantun Indonesia dan Malaysia memperjuangkan pantun diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda internasional. Hasilnya, Alhamdulillah. Puji Tuhan. Pada 16 Desember kita di Rumah Melayu membangun studio panggung. Siar. Daily Live pantun 16 jam non stop. Siarnya daring. Sebab masa Pandemi Covid-19. Dilarang ada kerumunan massa.
Daily Live pantun dibuka dengan Seminar Internasional Serumpun Berpantun. Dibuka Gubernur H Sutarmidji. Juga Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pusat Dr Pudentia MPSS. Juga Dirjen di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tentu juga Ketua MABM sekaligus Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Kalimantan Barat Prof Dr H Chairil Effendy, MS. Tampil narasumber dari Malaysia, Brunei, Prof Dr H Arif Rahman yang juga Sekretaris Unesco di Indonesia serta satu slot acara bersama Asean Studies, Bonn University Jerman.
