Oleh: Nur Iskandar

Garuda mendarat di bandara internasional Soepadio Kubu Raya pukul 14.30. Dua penumpang dari Badan Nasional Pembangunan Perbatasan (BNPP), Mira dan Agus menjejakkan kakinya ke Bumi Khatulistiwa, Selasa, 16/10/18.

Tujuan kedatangan dua pekerja ulet perihal “wajah terdepan” bangsa ini dalam rangka melihat perkembangan terbaru tapal batas. Data terbaru hendak disajikan dalam bentuk film dokumenter “Border Old and New”.

Saya turut serta sebagai interviewer. Seorang rekan kameramen turut melengkapi team dalam tugas yang sama. Yakni merekam wawancara, berikut kondisi wajah tapal batas saat gembok pagar dibuka dan para petugas imigrasi, bea cukai dan seterusnya bekerja melayani pelintas batas dua negara: Indonesia-Malaysia.

Kami sebenarnya hendak ke border terbaru di Kalbar, yakni Badau – Kapuas Hulu dan Aruk – Kabupaten Sambas. Namun dikarenakan beberapa ruas jalan kedua border dilanda banjir, kami hanya ke border Entikong – Kabupaten Sanggau. Harap maklum, medio Oktober kini musim hujan. Kota Putussibau pun sudah dilanda air menggenang. Begitupula kawasan Galing dekat pos Aruk – Sambas.

Mira dan Agus sudah bolak-balik seluruh tapal batas di Nusantara. Perangkat kerjanya kemas. Tak banyak tas. Ringkas. Bergeraknya tas tas taaaas. Tak pelak dengan jemputan yang piawai lantaran sudah menjadi pelanggan tetap BNPP di Kota Pontianak, Mira, Agus bersama sang sopir, Moko, ketiganya cepat tiba di Trans-Mart. Dari mall terbaru di Kubu Raya ini kami segera menyeberangi Jembatan Kapuas II, memasuki alur jalan Ambawang – Tayan. Di Simpang Ampar kami rehat sejenak untuk menikmati kopi panas. Maklum, lebih kurang tiga jam perjalanan, sebaiknya ada jeda buat istirahat.

***