teraju.id, Pontianak – Dr Firdaus Zar’in dikenal publik Kalbar, khususnya Kota Pontianak sebagai politisi yang berakar dari rahim pendidikan dan pengajaran. Wajar, sebab beliau merupakan alumni FKIP Untan dan tiga periode duduk di gedung parlemen Bumi khaTULIStiwa.
Senyampang, mantan Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kota Pontianak ini kontak buat diskusi soal pantun. “Istri sedang menyelesaikan disertasi tentang sastra lisan pantun. Saya cari referensi dan mau wawancara ahli,” pesan singkatnya masuk gejet genggam.
Sebagai koordinator Serumpun Berpantun saya tentu senang, sebab semakin banyak penelitian tentang pantun akan semakin lestari dalam ruang-ruang publik. Apalagi kampus. Apalagi disertasi. Puncak pencapaian pendidikan formal di sektor pendidikan tinggi. Ia setara dengan Komisaris Jenderal jika dianalogikan dengan pangkat kepolisian.
Saya mengajak sejumlah pakar. Ada Tuan Guru Agus Muare Rahman yang baru saja launching Buku 8 Rima Pantun serta Pantunin AI. Ada TnG Zuolkarnain dari Mempawah. Juga pakar Tundang Tan Shah Khumainy serta Yaser Syaifudin. Saya juga bawa beberapa buku pantun yang diserahkan kepada pria yang akrab kami sapa “Bang Da’uz”. Tak pelak, diskusi pantun merembet ke diskusi politik. Bahkan politik praktis. Kenapa? Sebab pantun “relate” dengan politik. Contoh:
Hati hati berlayar malam
Tikungannya gelap batuannya tajam
Pilih-pilih muallim yang paham
Sebab banyak kapal tenggelam
*
