Opini

Menggali Kedalaman Filosofi Perisai Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila

Menggali Kedalaman Filosofi Perisai Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila

Oleh: Nur Iskandar

Desmon S Andrian kurator Museum Konferensi Asia Afrika yang bernaung di bawah Kementerian Luar Negeri RI. Ia meneliti Lambang Negara Elang Rajawali Garuda Pancasila. Dari sini saya baru tahu bahwa teknik bacaan Pancasila itu bermula dari inti perisai, yakni titik hitam yang oleh umat Islam adalah ka’bah–di mana menjadi simbol universal kemanusiaan dan kebersamaan dengan nilai-nilai Ketuhanan. Setelah titik hitam yang di tengahnya ada cahaya ilahi dengan semiotik bintang bersudut lima adalah simbol kaya makna dan sangat dalam!

Konsep ini dijelaskan Sultan Hamid II dengan Thawaf atau di dalam bahasa Melayu Dayak “Gilir Balik”. Keempat sila itu gilir balik dengan teknik bacaan merah-putih–merah putih! Rrruar biasa konseptualnya!

Sebagai orang Kalimantan saya suka pada frasa Melayu-Dayak “Gilir Balik”. Hamid benar-benar tidak “kacang lupakan kulit”. Ia tidak lupa asal muasalnya yang blasteran Melayu-Dayak. Unsur Dayak kembali muncul dalam lambang sila persatuan, yakni kalung Dayak Taman, Kapuas Hulu. Rantai itu bukan rantai biasa, tapi persatuan umat manusia yakni laki-laki dan perempuan. Rantai itu kotak untuk simbolisasi laki-laki dan bulat untuk perempuan.