in

Kembali Ke Rusen Bersama Sabhan Rasyid

Ke Rusen Bersama Sabhan Rasyid.1

Teraju News Network – Singkawang (10-4-2021) Warung Kopi Rusen kembali menjadi tempat berjanji karena memang tepat di tengah, strategis untuk janji bertemu. Dari sudut Kota Singkawang mudah untuk mengakses ke sana sekaligus menguatkan bahwa warung kopi memiliki fungsi sosial selain fungsi ekonomi, fenomena semacam ini bisa jadi hanya di Kalimantan Barat, jika di trmpat lain sudah bertransformasi menjadai cafe. Tentunya, fenomena semacam ini telah berkesinambungan lama sejak awal keberadaan warung kopi itu sendiri.

Ke Rusen Bersama Sabhan Rasyid.2

Setelah bertemu Abrooroza A.Yusra dan Gunta Wirawan, kembali bertemu Sabhan Rasyid di Warung Kopi Rusen, tepat di bibir Sungai Singkawang. Sungai yang akan dinormalisasi Wali Kota Singkawang Thja Chui Mie untuk dapat dilalui perahu di malam hari, begitu beritanya dilansir oleh media lokal Kalimantan Barat. Kenangan seperti itu memang indah dikenang sekaligus asyik untuk diulang. Banyak aspek dipikirkan untuk mengembangkan wisata berbasis sungai dan memang daerah Kalimantan Barat erat kaitan dengan keberadaan sungai.

Meja di ruang tengah pun dipilih untuk berbincang-bincang, ditemani Dewi Juliastuty dengan Sabhan Rasyid, maklum membawa serta anak dan istrinya. Sabhan Rasyid kesehariannya di bidang pendidikan, mengajar di sebuah sekolah negeri tingkat pertama di Kota Singkawang. Di samping mengajar Sabhan Rasyid juga peduli di dunia literasi dengan menelurkan beberapa karya dalam bentuk buku bersama sebuah komunitas menulis. Pengajar yang demikian mudah memberi dampak praktik baik bagi murid-muridnya sekaligus tumbuh geliat literasi.

Baca Juga:  28 Juni Bendera Setengah Tiang: Tanda Kalbar 'Berdjoeang'

Dengan demikian, pengajar seperti Sabhan Rasyid mudah menjadi role model bagi muridnya memantik mengembangkan keliterasian. Metode semacam ini yang diterapkannya untuk memicu muridnya melakukan tulis-menulis dengan role model Hanna Fransisca, penulis Singkawang yang sudah merambah ranah nasional. Beberapa karya-karyanya, Sabhan Rasyid menunjukkan karyanya berbentu pentigraf, cerpen tiga paragraf. Sebuah bentuk karya sastra yang belum akrab dalam wacana sastra.

Ke Rusen Bersama Sabhan Rasyid

Bentuk karya sastra tersebut berkisah tentang lingkungan hidup sekitar Singkawang sebagaimana ungkap Sabhan Rasyid dalam perbincangan. Ungkapnya bahwa pentigraf terbagi menjadi tiga komponen, yaitu orientasi, komplikasi, dan resoluisi dan terperinci dalam tiga paragraph untuk membangun cerita yang utuh. Ditambahnya lagi bahwa bentuk karya sastra itu merupakan jawaban dari keresahan seorang profesor yang mengajar di Korea atas tunaminat anak-murid terhadap karya sastra.

Pentigraf yang digarap Sabhan Rasyid juga atas keresahannya terhadap ketidakseimbangan lingkungan hidup yang terjadi di Singkawang. Abrasi pantai dan galian tanah sebagai fakta riil di lapangan, difiktifkan untuk membangun karya sastranya. Hal semacam ini dipicu oleh pedulinya terhadap anak-anak Singkawang yang menggunakan pantai dan tanah lapang sebagai tempat bermain. Kelestariannya tidak dijaga maka anak-anak kehilangan tempat bermain dan tidak punya cerita untuk generasi mendatang.

Baca Juga:  Dari Cupang, Siluk, hingga Nila

Kelestarian lingkungan niscaya dipertahankan di tengah perubahan dan melalui sastra dapat disuarakan dan didokumentasi ruang dan waktunya sekaligus pelajaran (ibrah) dan praktik baik dapat ditularkan. Ekokritik melihat lingkungan hidup melalui karya sastra, khususnya di Singkawang dan umumnya Kalimantan Barat serta Indonesia berpotensi memberi dampak positif bagi hidup dan kehidupan di lingkup kecil. Upaya dan praktik baik tersebut yang telah turut dilakukan Sabhan Rasyid terhadap lingkungan hidup sekitarnya, Singkawang.(K/F)

Written by teraju.id

170004872 10159198113449168 7648585445743139641 n

Jaga Mendu, Upaya Menjaga Otentitas Budaya Melayu

rakernas binabud 2021

Terobosan Baru Binabud di Tengah Pandemi