in

Jaga Mendu, Upaya Menjaga Otentitas Budaya Melayu

170004872 10159198113449168 7648585445743139641 n

Teraju News Network – Lama tak menyapa Taman Budaya Kalimantan Barat, akhirnya tadi malam (07.04.2021) berkesempatan kembali hadir untuk menyaksikan Teatrikal Mendu yang digelar di salah satu bilangan Ahmad Yani, Kota Pontianak. Dalam rangka memperingati hari teater dunia. Awal mula undangan disampaikan kepada saya, oleh kawan penggiat Budaya, Fahrizal yang juga tampil sebagai salah satu pemeran dalam pentas budaya melayu itu.

Rizal mengundang saya hadir sebagai Ketua Yayasan Sultan Hamid II. Sebelumnya, tak jarang kami bincang tentang kebudayaan, utamanya di bumi khatulistiwa. Semangat untuk menggali dan menjaga khazanah budaya memang tak lekang oleh generasi masa kini. Faktanya, masih banyak perhatian yang mendalam dari anak muda sekarang. Salah satunya adalah konsentrasi mereka untuk menjaga Mendu agar tak layu hilang ditelan waktu.

Kita tau bahwa Mendu adalah kesenian peradaban Melayu yang sudah ada sejak dahulu. Mendu adalah teater rakyat yang hidup, berkembang, dan bertahan di beberapa wilayah kepulauan ini.
Kepulauan Melayu (the Malay Archipelago). Dia berada dan bertahan dalam rentang waktu cukup lama di beberapa pulau. Utamanya di Riau (daratan), kepulauan Riau, dan tepi bagian barat pulau Kalimantan (Kalbar).

Mendu adalah seni peran dalam bentuk teatrikal yang diiringi atau disertai dengan nyanyian dan/atau tarian di dalamnya. Dengan beriring tabuhan alat musik khas (rentak dan alunan) Melayu, serta ditampilkan karakteristik pemeran teater tersebut. Sejarahnya dalam riwayat klasik (tradisional) pentas peran ini berasal dari Hikayat Dewa Mendu, dengan menggunakan Bahasa Melayu Mendu dan Pesisir.

Mendu dipentaskan secara berbabak. Pemeran Mendu harus memainkan peran yang sama secara terus-menerus. Dengan menceritakan rangkaian kisah sesuai tema yang diangkat. Lalu pemeran dengan karakteristik yang beragam akan menampilkan seni perannya. Pusat kegiatan Mendu adalah di Bunguran dan meluas ke Natuna, Anambas, Sungai Ulu, Pulau Tiga, Midai dan Siantan (Kalbar).

Baca Juga:  Apakah Indonesia tidak punya standar bentuk lambang negara?

Awalnya teater Mendu dirintis oleh Nek Ketol. Teater ini kemudian dikembangkan oleh muridnya yang bernama Ali Kapot. Muridnya ini lalu membentuk kelompok teater Mendu di Desa Malikian, Kabupaten Mempawah. Kelompok ini terdiri dari tiga orang yaitu Ali Kapot, Amat Anta dan Achmad. Mereka kemudian mulai mengajarkan Mendu kepada masyarakat di desa lain pada tahun 1837.

Teater Mendu kemudian mulai dipentaskan di Sungai Jaga, Kabupaten Sambas, Mempawah, Tanjung, dan Mengkacak. Pementasan Mendu awalnya hanya dilakukan di kalangan masyarakat biasa, tetapi kemudian mulai menjadi bagian dari acara hiburan Kesultanan Mempawah. Selama periode tahun 1876 hingga 1943, pementasan Mendu didukung oleh Panembahan Kesultanan Mempawah.
Mendu kemudian dipentaskan di Kabupaten Pontianak, Kabupaten Sanggau, dan Kabupaten Ketapang. Pusat pementasannya berada di Mempawah, Ngabang, Sambas, Sungai Raya, Sungai Duri, Singkawang, Sekura, Tayan, Balai Karangan, Sungai Awan Kiri, Suka Baru, Sukadana, dan Simpang Hilir. Teatrikal Mendu, juga mempresentasikan seninya sebagai wadah informatif dan kritik terhadap realitas sosial, dan respon terhadap hukum maupun politik.

Sejarah dari kebudayaan seni peran seperti Mendu, perlu dijaga keberadaannya. Walaupun perhatian begitu kecil dari pemerintah, tapi tak menyurutkan langkah para penjaga marwah. Konsistensi dibutuhkan oleh budayawan, pegiat budaya, maupun seniman pelaksana Mendu sebagai produk kebudayaan masa lalu.

Jawabannya adalah langkah secara simultan patut dilakukan, dalam mendorong eksistensi keberadaanya. Tantangan, begitu demikian banyak. Jelas produk budaya dahulu akan tergerus karena modernisasi, bila tak pandai merestorasi dan mereformulasi komponen di dalamnya. Di sisi lain, kita patut menjaga otentitas kebudayaan melayu di Kalimantan Barat.

Baca Juga:  In Memoriam: Jalaluddin Rakhmat Memilih Jalan Tasawuf

Apakah kebudayaan yang otentik itu penting? Realitas peradaban sebuah bangsa yang berbudaya, akan jatuh seiring terkikisnya produk yang tercipta. Yang dimaksud dengan menjaga otentitas itu adalah, jangan sampai karena proses akulturasi budaya yang sudah ada kemudian menerabas semua aspek perangkat-perangkat di dalamnya.

Seperti sistem Politik, Bahasa, Adat Istiadat, Pakaian, Bangunan, Karya Seni, Aturan Hukum yang menjadi kebiasaan turun menurun, maupun norma hidup. Selama tak bertentangan dengan agama, karena asas hidup orang Melayu adalah “Adat Bersendi Syariat, Syariat Bersendi Kitabullah”.

Menimbang keadilan dalam peradaban, maka penting, mempertegas ulang makna otentitas kebudayaan. Jangan sampai kebudayaan yang dijaga sejak dahulu kala, kalah dengan kebiasaan yang dibangun hari ini, hingga norma hidup positif yang ditinggalkan nenek moyang patah, hancur tak bersisa.

Di sisi lain “kebudayaan” pula merupakan produk politik masa lalu, namun pantas pula ditautkan sebagai wadah berpolitik hari ini. Yang terlebih penting menjaga agar jangan sampai terjadi benturan dengan entitas kebudayaan lain yang akan menjadi dominan, dan selanjutnya menimbun puing kebudayaan asli tersebut.

Penting memang untuk memodernisasi budaya melayu hingga diterima generasi hari ini. Namun, tak pantas bila menggadai budaya lama dengan mencerabut akar dasar pohon. Akhirnya, produk Budaya seperti bahasa, norma hidup, adat istiadat dan seni tersebut menjadi penting untuk dijaga dan diceritakan secara turun menurun. Agar anak dan cucu paham bagaimana adab, interaksi, dan tata cara hidup para pendahulunya.

Seperti menjaga Mendu, menjaga keaslian (otentitas) budaya Melayu.

AD.
Live Streaming: YouTube Channel Ed TV
https://youtu.be/_rBkULNVWG4

Written by Anshari Dimyati

IMG 20210409 WA0000

Dari Rusen Dengan Gunta Wirawan

Ke Rusen Bersama Sabhan Rasyid.1

Kembali Ke Rusen Bersama Sabhan Rasyid