Opini

“Amsterdam, Ik vind je leuk” Suatu Ketika

“Amsterdam, Ik vind je leuk” Suatu Ketika
Syafaruddin DaEng Usman dan istri di Amsterdam. Holland, one fine day in Amsterdam

*Syafaruddin DaEng Usman

Amsterdam. Nama yang akan selalu kuingat. Zo, vertel iets over jezelf, Amsterdam, wat je maar wil. Begitulah kesan dan kenangan tak kurang dari lima pekan di Eropa ini yang akan menjadi semacam ingatan tentunya.

Menyusuri kota ini bagai membuka buku dan lembaran sejarah. Bangunan-bangunan klasik berbagai gaya berjajar rapi. Kebanyakan berasal dari abad XVII atau XVIII silam, saat di mana zaman keemasan menyentuh negeri ini.

Amsterdam adalah kota yang dengan cermat merekam peradaban. Semangat renaisans masih jelas tercium di distrik grachtengordel. Sementara itu, Museum het Anne Frank Huis berdiri tegak jadi saksi kekejian Nazi membantai kaum Yahudi semasa Perang Dunia kedua.

Arsitektur gothic menampakkan diri di sela lonceng Gereja de Oude Kerk. Sedangkan Rijksmuseum merawat geliat seniman-seniman besar Belanda seperti van Gogh, Rembrandt, dan Vermeer dengan apik.

Sahabat saya, Steven yang lahir di kota ini menyebutkan Amsterdam sebagai kota berwajah kontradiktif yang dinamis. Kata dia, De 9 Straatjes, atau sembilan jalan di distrik grachtengordel, berlomba memamerkan toko-toko unik, dari barang vintage sampai karya desainer. Dari cokelat bonbons sampai benda-benda art deco.

Saya lihat, di sudut lain kota, dari Stasiun Amsterdam Centraal, permukaan kanal memantulkan gedung-gedung tua. Bau kombinasi harum kopi yang menguar, disajikan di kafe-kafe pinggir jalan.

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *