Home > Opini > Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter
Dr H Wajidi Sayadi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter

Oleh: Wajidi Sayadi

Salah satu program rutin setiap hari Jumat di IAIN Pontianak pada Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) ialah FUAD Mengaji. Kali ini Jumat, 6 Desember 2019 saya diminta sebagai narasumber dengan judul materi “Pembentukan Karakter”. Pesertanya dibatasi hanya mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Psikologi Islam, dan Bimbingan Konseling Islam semester I diselenggarakan di masjid kampus Masjid Syekh Abdurrani.

Ada dua bagian yang disampaikan dalam FUAD Mengaji ini, pertama, Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang. Kedua, cara membentuk karakter.

Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi terbentuknya karakter seseorang, di antaranya:

1. Dorongan kekuatan spiritual.
Manusia adalah makhluk spiritual, makanya kekuatan spiritual itulah sangat berpengaruh pada kepribadian dan watak seseorang. Manusia sebelum lahir ke dunia sudah terikat perjanjian spiritual dengan Allah. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat al-A’raf ayat 172:

Allah bertanya: أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ (Bukankah Aku ini Tuhanmu?) Mereka manusia menjawab: “بَلى” (ya benar), Engkau ya Allah adalah Tuhan kami).

Pengakuan inilah yang kemudian disebut sebagai syahadat awal, lalu diperbarui ketika sudah lahir ke dunia dengan membaca dua kalimat syahadat. أشهدُ أن لا إلهَ إلا اللهُ وَ أشهدُ أنَّ محمدًا رسولُ الله
Pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan kita inilah yang disebut bahwa manusia adalah makhluk spiritual. Dalam hadis riwayat imam Muslim dari Abu Hurairah, disebutkan bahwa setiap manusia lahir dalam keadaan fitrah. Fitrah yang dimaksud adalah akidah, yakni pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan kita. Inilah agama, inilah spiritual. أول الدين معرفة الله (Ajaran awal agama adalah Mengenal Allah).

Atas dasar inilah, saya tidak sependapat dengan teori yang mengatakan bahwa manusia itu lahir dalam keadaan seperti kertas kosong.
Berdasarkan hadis Nabi SAW. bahwa sejak lahir manusia sudah ada bibit akidah bawaan.
Di sinilah peran guru, ustadz, kyai, ulama, para tokoh, untuk menumbuhkan dan mengembangkan bibit akidah spiritual itu. Kegiatan guru, ustadz dan para ulama itulah yang dengan pendidikan, dalam istilah agama disebut tarbiyah. Tarbiyah artinya menumbuhkan dan mengembangkan. Seorang orang tua, ketika menitipkan anaknya, carilah guru dan pendidikan yang bisa menumbuhkan dan mengembangkan serta menyelamatkan akidah anak.

Pembentukan karakter anak dan seseorang, sangat dipengaruhi oleh dorongan kekuatan spiritual melalui para guru, ustadz, kyai, ulama, dan lainnya, termasuk lembaga spiritual seperti masjid, surau, atau pun mushalla, lembaga pendidikan spiritual seperti Pondok Pesantren, dan lain-lain.

2. Keluarga terdekat meliputi orang tua, saudara, dan lainnya.

Setiap anak lahir, diasuh, dan dibesarkan melalui sebuah keluarga. Lingkungan terdekat inilah yang sangat berpengaruh pada pembentukan karakternya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah SAW. bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِه
Tidaklah seseorang itu lahir kecuali dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah menyebabkan bisa menjadi Yahudi, Nasrani atau pun Majusi. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Kata “فَأَبَوَاهُ” (maka, kedua orang tuanyalah) bukan hanya ayah dan ibu kandung saja, akan tetapi maksudnya keluarga sebagai pihak yang terdekat dengan anak. Orang-orang terdekat pasti ikut andil memberikan pengaruh dalam pembentukan kepribadian seseorang. Anak yang baru lahir, lalu kedua orang tuanya meninggal dunia, maka pengasuhnya dan keluarga terdekat lainnya, seperti nenek, bibi, dan lainnya yang setiap saat didengar dan dilihat, pasti berpengaruh terutama pada sikap dan perilaku yang gampang ditiru.

Sekali lagi, fitrah yang dimaksud dalam hadis tersebut di atas adalah akidah. Akidah itulah dasar agama. Orang tua dan keluarga sebenarnya juga sebagai guru secara kodrati, karena merekalah yang diharapkan menjaga, memelihara, menumbuhkan, dan mengembangkan akidah anak-anaknya. Kalau pun orang tua, belum sanggup, maka titipkanlah anak-anaknya pada guru professional dan pihak-pihak yang dipercaya bisa merawat dan mengembangkan akidah mereka. Para ulama biasa menasehati dengan kalimat: “Rumah adalah lembaga pendidikan pertama”.

3. Sahabat terdekat.

Pihak-pihak yang ikut andil berpengaruh dalam pembentukan sifat dan karakter anak dan seseorang adalah sahabat terdekat, sahabat setia, apalagi sahabat yang dianggap sebagai kekasih. Nabi SAW. bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu mengikuti agama sahabat setianya (kekasihnya). Maka, perhatikanlah di antara kalian, siapakah sahabat setianyaa. (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah).

Oleh karena itu, mencari dan memilih sahabat setia perlu selektif. Bukan berarti mengabaikan sahabat-sahabat lainnya.

4. Lingkungan Sosial

Orang yang tinggal di suatu lingkungan sosial yang sudah terbiasa hidup teratur, hidup bersih, hidup disiplin, hidup saling menghargai, maka ia akan ikut dengan kebiasaan seperti itu, walau pun yang bersangkutan tidak banyak tahu hukum agama, tidak tahu ayat dan hadis. Mereka seperti dipaksa oleh situasi dan keadaan untuk harus ikut dengan lingkungan sosialnya.

Beberapa tahun lalu, saya sempat berkunjung ke Kairo di Mesir, ada suatu kebiasaan masyarakatnya yang bagus, ketika kita berada di suatu ruang public, fasilitas umum, misalnya di bis kota, ada seseorang sudah duduk di kursi, tiba-tiba ada orang tua naik dan berdiri, maka yang muda segera berdiri mempersilakan duduk orang yang lebih tua. Begitu juga penghargaan mereka terhadap perempuan sangat bagus. Di halte tempat menunggu bis, masing-masing sibuk membaca al-Qur’an dengan memegang mushaf al-Qur’an di tangan masing-masing, atau buku-buku. bahkan dalam bis kota, bis umum, penumpangnya masing-masing sibuk membaca al-Qur’an dengan mushaf di tangan masing-masing. Pemandangan seperti ini di Kairo sudah biasa, dan akan berpengaruh kepada orang-orang yang tinggal di lingkungan seperti itu.
Kalau kebiasaan memegang mushaf dan membaca al-Qur’an di atas bis atau di tengah-tengah keramaian seperti ini dibawa ke Indonesia atau ke Pontianak, bisa jadi, kita akan dilihat-lihati atau diplototi, bahkan bisa jadi kita dianggap sok alim, karena lingkungannya belum terbiasa.

Begitu juga, pengalaman saya beberapa bulan lalu, ketika berkunjung ke Washington DC., Detroit, dan Los Angeles Amerika Serikat, salah satu kesannya adalah masyarakat dan lingkungannya hidup teratur, disiplin, dan bersih. Maka orang-orang yang tinggal di lingkuan seperti itu akan ikut dengan kebiasaan tidak membuang sampah sembarangan, tidak menyeberang jalan sembarangan, tidak menyepelekan apalagi membuang-buang waktu, dan seterusnya.

Sebaliknya, ketika tinggal di lingkungan sosial yang sudah terbiasa parkir kendaraan sembarangan tidak memperhitungkan orang lain dan lingkungan sekitarnya, membuang sampah sembarangan, tidak tahu antri, tidak tahu menghargai orang tua, dan kebiasaan buruk lainnya, maka yang bersangkutan juga dengan mudah ikut-ikutan dan terpengaruh, walaupun hapal ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis tentang kebersihan, keteraturan, dan saling menghargai. Ini sekedar contoh, bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh.

5 Lembaga pendidikan formal ataupun informal

Sebagaimana halnya keluarga dan lingkungan, maka lembaga pendidikan, baik formal maupun informal pasti berpengaruh terhadap anak dan seseorang dalam proses pertumbuhan kepribadian dan karakternya. Setiap hari kecuali hari libur, dari pagi sampai sore, anak-anak, siswa atau mahasiswa tinggal dan berinteraksi dengan insan-nsan lembaga pendidikan itu, terutama pada keteladanan penyelenggara pendidikan itu sendiri.

Seorang anak yang biasa hidup disiplin, teratur dan bersih di rumahnya, lalu belajar di lingkungan lembaga pendidikan yang tidak menyiapkan tempat sampah, tidak menyiapkan tempat parkiran yang seharusnya, bahkan terkesan lingkungan jorok, maka anak tersebut ikut dan terpengaruh dengan lingkungan lembaga tersebut. Pendidikan sebenarnya, bukan sekedar pengajaran, akan tetapi lebih pada contoh dan keteladanan.

6. Media yang dinikmati

Keberadaan Media sudah menjadi keperluan dan keniscayaan. Akan tetapi harus selektif dan kritis, sebab media juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang, terutama media yang dinikmati penuh keseriusan. Bisa saja, ada orang yang sebelum aktif menggunakan media sosial, tutur katanya baik dan lembut, sikapnya sopan dan santun. Akan tetapi, setelah cukup lama dan setiap saat disuguhi berita yang isinya hanya kejelekan orang, menjelek-jelekkan orang dan kelompok tertentu, maka terjadi perubahan dalam dirinya, meniru-niru apa yang sering dibaca dari media tersebut. Akhirnya, suka berpikiran negati kepada orang lain.
Berbeda halnya, ketika bergabung dalam suatu group WhatsApp yang isinya banyak share tentang doa, dzikir, kata-kata bijak, nasehat, artikel, satu hari satu ayat al-Qur’an, satu hari satu hadis, akan berpengaruh baik terhadap pembaca setia.

7. Masalah dan tekanan hidup

Masalah sekecil apa pun yang menimpa seseorang, apalagi sampai hidupnya tertekan pasti berpengaruh pada proses pembentukan kepribadian yang bersangkutan. Mereka yang selalu ditimpa masalah, akan selalu berusaha mencari jalan keluarnya dengan segala upayanya. Mereka yang terbiasa menghadapi masalah, proses pendewasaan dirinya biasanya lebih cepat, lebih bagus, bahkan lebih matang kepribadiannya. Dibandingkan dengan orang yang hidupnya terbiasa dengan kenyamanan, tanpa masalah.

Semoga bermanfaat, kita menjadi pribadi yang berkarakter yang diridhai Allah SWT.

Pontianak, Sabtu, 7 Desember 2019

Berbagi itu indah:

Tulis Komentar

comments

About teraju.id

Check Also

Anti Diskriminasi ala Gusdur dan Romo

Oleh Fubertus Ipur Saya mungkn termasuk manusia beruntung bisa belajar soal anti diskriminasi rasial dari …

teraju.id