Opini

“Amsterdam, Ik vind je leuk” Suatu Ketika

“Amsterdam, Ik vind je leuk” Suatu Ketika
Syafaruddin DaEng Usman dan istri di Amsterdam. Holland, one fine day in Amsterdam

Ketika melintasi Damrak ke arah Jordaan, masih di centrum, nampak berderet museum seks dan toko suvenir di sisi kanan. Sementara kapal-kapal yang menawarkan tur, menyusuri kanal-kanal Amsterdam yang berjajar di sisi kiri.

Cahaya matahari di musim semi melumuri kota. Alun-alun de Dam, di depan Istana Kerajaan, dipenuhi wisatawan yang sibuk berfoto. Burung-burung kota mengerubung, siap mematuk potongan roti yang disebar orang-orang.

Terlihat pula, seniman jalanan merajalela di alun-alun. Mereka menunggu wisatawan melempar sisa receh ke topi-topi terbalik di hadapan mereka. Saya lihat, beberapa berpose layaknya patung, beberapa lagi mempertunjukkan kebolehan sulap. Dan sisanya duduk di kursi kayu dengan kanvas dan cat air di tangan.

Sahabat lain saya, Johan membisikkan, di sudut lain kota Amsterdam di malam hari, banyak lampu-lampu Red Light Districk berkelap-kelip. “Di sana menyodorkan bisnis yang kabarnya paling tua di jagat Netherland, prostitusi”, ujarnya. Etalase berlampu neon merah jambu memajang perempuan-perempuan disinari beraneka warna.

Saat saya dan istri di Amsterdam, kebetulan di bulan April, dulunya bulan ini dimeriahkan dengan perayaan Koninginnedag. Koninginnedag, hari Ratu, biasanya dibilang perayaan terbesar di Belanda yang dinanti semua orang setiap tahunnya.

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *