*Syafaruddin Daeng Usman
Belum sebulan yang lalu, suatu ketika, hari masih pagi dan matahari muncul pelan-pelan. Ikut serta angin utara berembus dingin. Perlahan saya merapatkan jaket, sembari mengeluarkan tumbler berisi teh hangat dari ransel.
Hari itu saya dan Istri berencana untuk suatu perjalanan yang cukup menelan waktu. Di belakang kami, bangunan Oude Sterrewacht berdiri tegak dikelilingi taman hijau. Gedung yang rampung direstorasi tahun 2011 ini dibangun pada tahun 1633. Dan merupakan observatorium universitas tertua di dunia.
Nampak kubah perak Oude Sterrewacht yang berkilau-kilatan ditimpa matahari yang semula malu-malu memunculkan diri. Sepertinya gedung tua ini digunakan sebagai tempat penelitian astronomi Universiteit Leiden. Selesai direstorasi penghujung 2011 silam kembali dibuka untuk publik. Di sana orang dapat meneropong bintang dengan teleskop raksasa.
Bangunan tertua Universiteit Leiden berdiri angkuh, seakan berbangga hati karena jadi simbol garis akhir perjuangan mahasiswa Leiden. Mulanya, gedung itu merupakan bangunan Gereja Dominika Magdalena. Namun, sejak 1581, tempat ini jadi bagian tak terpisahkan dari Universiteit Leiden. Hampir semua acara seremonial universitas digelar di sini.
Di depan Academigebouw, mengalir kanal kecil yang kanan-kirinya dihiasi pepohonan yang akan menguning daunnya ketika menyambut musim gugur yang kadang tiba terlambat. Di dekat situ ada Barrera di pojok Rapenburg, salah satu kafe di ujung jalan.
