Alexandra menyebutkan, sekitar dua puluh lima persen wilayah Belanda, termasuk daerah yang padat dan penting secara ekonomi, berada di bawah permukaan laut. Kata dia, sejak abad ke 16, Belanda sudah mengeringkan perairan untuk dijadikan daratan.
Saking terkenalnya kehebatan Belanda dalam bidang ini, kata dia dengan bangga, sampai-sampai ada pepatah, “God schiep de Aarde, maar Nederlanders schiepen Nederland” atau “Tuhan memang menciptakan bumi, tetapi orang Belanda sanggup menciptakan daratan”.
Skyline Rotterdam yang membuat kota ini dijuluki Manhattan aan de Maas, atau Manhattan di tepi Sungai Maas.
Pemandangan perlahan mulai berubah. Pusat kota yang sibuk berganti padang rumput sepi, gedung-gedung yang tinggi menghilang di belakang, memberi tempat untuk pepohonan hijau di kiri-kanan sungai.
Kapal memasuki wilayah Kinderdijk. Kompleks sembilan belas kincir angin ini sebenarnya adalah bagian dari sistem manajemen air terpadu. Untuk mencegah banjir, deretan kincir angin ini bertugas memompa air dari polder ke Sungai Lek yang kemudian mengalir ke Laut Utara.
Merapat di Desa Kinderdijk, melewati setapak kecil dan deretan kincir angin. Angin bertiup kencang, ilalang tinggi di pinggir jalan ikut berayun, baling-baling kincir di kanan-kiri berputar seirama.
