in

Ziarah ke Makam Keramat Pangeran Hamid di Angke-Jakarta

Kandidat Kuat Pahlawan Nasional

makan pangeran hamid muara angke jakarta


Oleh: Nur Iskandar

\”Agik ke Jakarta keh? Ayok kite ke Makam Keramat Angke. Aku nak nengokkan kau Pangeran Hamid yang kau mimpikan itu.” Begitu kontak Sekretaris Pribadi Sultan Hamid II Alkadrie, Max Jusuf Alkadrie kepada saya yang sedang inap di kawasan Jakarta bagian utara. Saat itu ada kegiatan Ikapi. Ikatan Penerbit Indonesia. Saya mewakili Kalbar.

Om Max, demikian kami akrab menyapa datang menjemput. Hanya Beliau, sopir dan saya. Kami bertolak malam hari.

Sambil berkendara membelah lika-liku Jakarta, kami berbagi cerita. Termasuk mimpi berjumpa Pangeran Hamid yang berbaju ala Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol tersebut. Mimpi ini saya dapatkan saat mempersiapkan Pameran Lambang Negara selama 3 bulan di Gedung Arsipda Kalbar, 2013.

“Mimpi itu di kawasan pintu keluar jika kita sai di Baitullah–Makkah Almukarramah. Di sana pria bersurban memberikan saya dua tanaman sukulen. Sebelah kanan berwarna hijau dan kiri berwarna merah. Saya diberikan begitu saja untuk ditanam.”
Om Max menanyakan ciri-cirinya. Saya bilang bersorban seperti Pangeran Diponegoro atau Imam Bonjol.

Om Max dengan gaya senyumnya yang khas, tenggelam kedua bola mata di balik kacamatanya. Ia tertawa riang. “Itulah Pangeran Hamid. Allahyarham pejuang di Angke. Makamnya dikeramatkan sampai sekarang!”

Om Max bertanya. “Kau pernah ziarah ke Angke belum?”
Saya bilang tidak pernah. Inilah kali pertama beranjak ke sana. Saya tidak pernah tahu ada Alkadrie dimakamkan di Jakarta. Ulama dan pejuang pula.

pangeran hamid

*

Mobil kami parkir di salah satu sudut jalan. Di dalam mesjid dan makam ramai jamaah. Mereka berzikir.
Saya ikut masuk. Sholat sunnah. Kemudian menyimak situasi sekeliling. Seperti biasa masuk makam membaca doa dan salam.
Makam keramat di Indonesia diberikan bangunan. Diberikan selubung. Saya memotret beberapa sudutnya. Juga salasilahnya yang sambung sampai ke Rasulullah Muhammad SAW. Memang Alkadrie adalah cucu-cicit Rasulullah dari Fatimatul Zahra – Sayyidina Ali Bin Abi Thalib RA. (Shallu ‘alan Nabi).

Baca Juga:  Idul Fitri 1991-2021

*

Allahyarham Pangeran Syarif Hamid bin Sultan Syarif Abdurahman Alkadrie wafat dalam usia 64 tahun, 1854. Makamnya terletak persis di depan Masjid Jami’ Angke. Makam ini banyak dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, khususnya pada Kamis malam saat diadakannya pembacaan Yasin dan doa bersama. Menurut situs ensiklopedi Jakarta, kepadatan peziarah hungga berjumlah ribuan biasanya terjadi saat ‘haul sohibul maqom’ Pangeran Syarif Hamid bin Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie yang jatuh pada satu hari setelah Hari Raya Idul Adha.

Situs wisata Jakarta mengakui Pangeran Hamid dari Kesultanan Pontianak. Beliau sangat gigih menentang pemerintah Hindia Belanda. Ia melakukan pemberontakan sekitar tahun 1800-an tetapi kemudian tertangkap dan akhirnya dibuang ke Batavia.
Makam Pangeran Hamid berada dalam bangunan cungkup, ditutupi kelambu berwarna kuning keemasan. Bangunan cungkup berdenah bujur sangkar dan terbuka, berukuran 4,67×4,67 m dan tinggi 4,2 m.

Teras bangunan cungkup ada di sisi selatan ukuran 7,27×0.60 m, dan sisi barat berukuran 5,2×1,2 m. Dinding bangunan cungkup terbuat dari teralis besi setinggi 1 m. Atap bangunan cungkup bentuknya seperti rumah pada umumnya, terbuat dari kayu yang ditutup genteng.

Balok-balok kayu penopang atap bersambung dengan spesi (campuran semen, pasir dan air). Tiang penopang bangunan cungkup setinggi 3 m, menahan kayu-kayu kaso tanpa paku, berada di keempat sudut bangunan.

Komponen utama konstruksi atap adalah balok jurai limasan, bantalan/balok pangkal kaso, bantalan ujung kaso, dan bantalan tengah kaso yang dilengkapi dengan tiang penopang gantung. Adapun yang dimaksud dengan tiang penopang gantung adalah tiang penopang yang tidak langsung meneruskan beban berat langsung ke tanah, melainkan disalurkan melalui bidang atau titik penopangnya, dalam hal ini adalah tiang utama cungkup, balok loteng, dan bangsal. Ketiga komponen ini berfungsi melekatkan langit-langit atap agar dapat menutupi bagian dalam sistem konstruksi yang mungkin kurang indah jika terlihat langsung.

makan pangeran hamid muara angke jakarta 2

Kijing atau jirat berbentuk empat persegi panjang dan berundak. Undak bagian bawah berukuran panjang 2,m, lebar 1,33 m, dan tinggi 0,25 m. Undak bagian atas berukuran panjang 2,07 m, lebar 76,5 m, dan tinggi 0,55 m. Undakan kijing bagian bawah dilapis dengan marmer putih yang ditumpuk dengan spesi, sedang undakan atas ditumpuk tanpa spesi. Kijing terbuat dari marmer yang diberi hiasan motif tumbuhan berupa dua pucuk kelapa, dan kaligrafi. Kaki nisan berbentuk empat persegi panjang sedangkan badannya bulat lonjong atau oval. Bahu nisan berbentuk lingkaran dan atasnya berbentuk bawang. Nisan polos tanpa hiasan. Tinggi nisan 65 cm, sedangkan bagian dasar yang berbentuk persegi tingginya 5 cm.

Baca Juga:  Rehal: Identitas dan Makna

Sebenarnya masih banyak makam-makam lainnya di dalam kompleks Masjid Angke, hanya saja yang menjadi tujuan utama para peziarah adalah makam Allahyarham Pangeran Hamid, hingga banyak yang menganggap makam ini “keramat dan mempunyai tuah”. Berdoa di makam orang-orang sholeh juga dianjurkan, tetapi untuk mendoakan yang berada di dalam makam dan diri sendiri, tentunya ditujukan kepada Allah semata. Bukan sebaliknya, maksudnya memohon kepada Allah dan bukan makam.

Di belakang makam Habib Pangeran Alkadrie terdapat makam Ibu Ratu Pembayun Fatimah, putri Sultan Maulana Hasanuddin dari Keraton Surosowan Banten, yang menjadi isteri Pangeran Tubagus Angke. Di halaman belakang masjid terdapat Makam Syaikh Liong Tan, arsitek Masjid Angke Jakarta. Ada juga makam Syarifah Maryam, dan Syekh Jaffar, keluarga Pangeran Sultan Hasanuddin dari Banten. Nisannya berbentuk bulat dengan hiasan kerucut di bagian atas. Kedua makam diberi pembatas besi dan ditutup dengan kelambu. Di sekitar masjid ini juga ada makam orang-orang keturunan Arab, Bali, Banten, Pontianak, dan Tartar. Jumlahnya 30 makam, dengan nisan berhiaskan ukiran kuncup padma, tumpal (segi tiga), dan sulur-suluran.
Inilah kali pertama saya berziarah ke Makam Angke. Saya melihat ada pertautan sejarah Pontianak-Jakarta yang sangat kuat. Ada pertalian sejarah kesultanan dan perjuangan nasional yang kental.

makan pangeran hamid muara angke jakarta 3

Dari kisah Pangeran Hamid melawan Kolonial Belanda hingga diasingkan ke Batavia–dalam berbagai riset ilmiah–Pangeran Hamid melahirkan banyak pejuang bangsa Indonesia, antara lain Muhammad Husni Thamrin (MH Thamrin) yang namanya populer sebagai jalan utama DKI. Jalan ini menghubungkan publik ke Monumen Nasional (Monas).

Baca Juga:  Jaga Mendu, Upaya Menjaga Otentitas Budaya Melayu

Pangeran Hamid juga menurunkan generasi emas yang jago silat. Turunan silat Melayu Kalimantan Barat. Siapakah dia gerangan? Publik pasti kenal! Si Pitung!
Nanti, jika cucu-cicit Alkadrie yang berjasa merancang Lambang Negara hingga November 2021 tidak diterima Departemen Sosial RI sebagai Pahlawan Nasional kita tiada pernah menyerah–Teraju News Network akan mengusulkan Pangeran Hamid Alkadrie sebagai Pahlawan Nasional–eksistensi lokal-nasionalnya signifikan–jelas. Semua syarat gelar pahlawan nasional secara akademis, situs, kesaksian, literasi pun terpenuhi. Masih banyak pintu untuk Kalbar menambah inspirasi Nasional lewat jalur ketokohan pahlawan. Pangeran Hamid Alkadrie menunjukkan etos kejuangan yang turun temurun hingga Syarif Muhammad Alkadrie yang tewas melawan Dai Nippon Jepang hingga Mayjen KNIL Sultan Syarif Hamid II Alkadrie Sang Perancang Lambang Negara sekaligus arsitek diplomatik Konferensi Meja Bundar di mana Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus 1945. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

Monumen Amdji Attak

Monumen Amdji Attak di Markas Besar Brimob-Polri

pelabuhan internasional

Sultan Hamid II Pahlawan Bangsa–Pelabuhan Internasional Tanjungpura