Letaknya yang hanya beberapa ratus meter dari gedung fakultas atau Kamerlingh Onnes Gebouw, membuat Barrera digandrungi mahasiswa hukum. Hampir tiap waktu bisa ditemukan ada mahasiswa yang nongkrong di situ sembari menyesap cappuccino dari koffieautomaat.
Saat seketika itu hadir dua sahabat saya, Alexandra Blusse dan Peter Blackburn. Lumayan lama kami tidak bertemu, namun komunikasi via sur-el terus berjalin.
“Hoi, Din! Hoe issie?”, sapa Alexandra sembari dengan cium pipi tiga kali khas Belanda, kanan-kiri-kanan. Sementara jabat tangan dengan laki-laki dan cium pipi tiga kali dengan yang perempuan, adalah kekhasan sekaligus tanda persahabatan di Holland.
Zaman dahulu tidak semua orang Belanda punya nama keluarga. Yang punya nama belakang biasanya hanya bangsawan atau orang kaya yang merasa perlu mendata anggota keluarga untuk kepentingan warisan dan perkawinan.
Waktu itu, kebanyakan nama belakang dibentuk dengan mencomot nama ayah. Misalnya, Peter anaknya Blackburn, jadi Peter Blackburn. Atau Alexandra anaknya Blusse jadi Alexandra Blusse.
Baru pada tahun 1811, pemerintahan Napoleon, yang waktu itu menguasai wilayah Belanda, mewajibkan seluruh penduduk untuk memiliki nama belakang. Alasannya sederhana, untuk memudahkan pencatatan arsip kependudukan. Karena itulah, orang-orang yang tidak punya nama belakang mereka dibolehkan memilih nama belakang sendiri.
