Opini

“Mencari Angin” di Kincir Angin di Negeri Kincir Angin

“Mencari Angin” di Kincir Angin di Negeri Kincir Angin

Kata dia lagi, orang Friesland juga merasa punya identitas budaya yang berbeda dengan penduduk propinsi lain di Belanda. Salah satu alasannya adalah karena mereka punya bahasa sendiri, bahasa Frisia. Di propinsi ini, bahasa Frisia jadi salah satu pelajaran wajib di sekolah. Bahkan, ada sekolah yang menggunakan dua bahasa, bahasa Belanda dan Frisia. Setelah kami mengelilingi pusat Kota Sloten, perjalanan dilanjutkan ke kincir angin de Kaai.

“Rotterdam memang terkenal sebagai kota imigran. Ratusan ribu pendatang dari berbagai penjuru dunia tinggal di sini”, kata Alexandra.

Imigrasi punya sejarah panjang di Belanda. Sejak abad ke 16, Belanda yang dikenal sebagai negara dagang, sudah jadi tujuan imigrasi. Salah satu gelombang imigrasi terbesar di Belanda dari Indonesia. Sejak 1945 sampai 1965, banyak sekali orang Belanda dan Indo yang memilih kembali ke sini karena situasi politik di Indonesia tidak menguntungkan mereka.

Orang Turki dan Maroko juga banyak di Belanda. Mereka rata-rata datang pada tahun 1960-an sebagai pekerja imigran, kata Peter. Waktu itu, lanjut dia, Belanda sangat makmur. Ekonomi berkembang pesat, sampai-sampai negara ini sanggup mendatangkan pekerja imigran untuk memegang pekerjaan berat di pabrik-pabrik.

Tulis Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *