in

Istri Sultan Hamid–Didi Van Delden–ternyata Juga Keturunan Raja Sulawesi Selatan: Ada Tuang La Wawo

WhatsApp Image 2020 07 02 at 01.54.56
Max Nico membacakan kisah perjuangan orang tuanya di acara kebudayaan Belanda beberapa waktu sebelum menghembuskan napas terakhirnya di usia 78 tahun.

Oleh: Nur Iskandar

Masya Allah. Saya terkesima membaca tulisan putra mahkota Sultan Hamid II Alkadrie, Max Nico. Sosok yang meninggal pada umur 78 tahun ini amat sangat cinta kepada ayah dan ibundanya.

Dari tulisannya mungkin kita bisa menghayati bagaimana cinta antara Sultan Hamid dan ibundanya. Sosok cantik jelita yang amat sangat serasi dengan Sultan Hamid II yang tampan dan rupawan.

WhatsApp Image 2020 07 02 at 01.44.36
Didi Van Delden dan kedua anak hasil perkawinannya dengan Sultan Hamid II Alkadrie

Di balik pengetahuan kita tentang sosok Didi Van Delden yang amat sangat minim, sehingga kita hanya tahu bahwa dia adalah wanita Belanda, ternyata, melalui tulisan Max Nico, kita baru tahu siapa Didi Van Delden itu sesungguhnya. Rupanya, dia adalah wanita keturunan bangsawan dari Kerajaan Sulawesi Selatan–baca selengkapnya Didi Van Delden yang bergelar Sultana Maharatu Mas Makhota Pontianak.


Pada tanggal 19 Juni 2010, wanita Belanda terakhir yang pernah menjadi ratu salah satu dari 300 kerajaan di Indonesia meninggal pada usia 95 tahun di deen Hag Negeri Belanda.

Ia adalah Sultana Maharatu Mas Makhota Pontianak, istri dari Sultan Syarif Hamid ibni almarhum Sultan Syarif Muhammad Alkadrie, lebih dikenal dengan sebutan Sultan Hamid II, yang memerintah 1945-1978 di Istana Kadriah, kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.

Ia (Ratu Mas Mahkota) dilahirkan pada tahun 1915/ bulan 05/tanggal 01 dalam lingkungan perkebunan keluarganya. Di tubuhnya mengalir darah bangsawan, karena nenek moyangnya adalah ada tuang (raja) dari Sidenreng di Sulawesi Selatan bernama La Wawo (memerintah 1831-1837).

WhatsApp Image 2020 07 02 at 01.52.57
Sultan Hamid dan istri Didi Van Delden bergelar Sultana Maharatu Mas Makhota Pontianak bersama tamu dan keluarga istana di ruang utama Kesultanan Qadriyah Pontianak di masa menjadi raja.

Pada akhir tahun 1930 ia menikah dengan pangeran muda Pangeran Syarif Hamid Alkadrie yang kemudian menjadi Sultan Pontianak ke VII. Dia melahirkan 2 anak. Pertama Sofia kakak Max (wafat mendahului ibunya), dan hanya tinggal seorang putra Max Yusuf Alkadrie yang masih hidup. (NB: saat naskah ini dinaikkan di teraju.id, Max Yusuf Alkadrie yang akrab disapa Max Nico telah pula wafat).

Setelah Jepang membunuh banyak bangsawan pada tahun 1944 di Kalimantan Barat, ia menjadi terkejut dan pada tahun 1945 pada tahun berikutnya Ia dilantik sebagai Ratu Pontianak, ketika suaminya terpilih sebagai Sultan Pontianak ke VII, pada 23-10-1945.

Baca Juga:  Diar Andiani dan Hidup-Mati untuk AFS--A Beautiful Soul--Catatan In Memoriam

Dalam masa sulit setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia dan Belanda memberikan kemerdekaan penuh untuk Indonesia, Sultan mengirim keluarganya ke Belanda untuk alasan keamanan dan mereka tidak pernah kembali lagi ke Indonesia.

Selama masa yang sulit bagi suaminya (Sultan Hamid.II, dituduh makar pada 1950 dan setelah pembebasannya, kembali pada tahun 1960- Suaminya dikirim ke penjara untuk apa yang disebut pemberontakan terkenal dengan istilah Bali Conection), Didi selalu mendukung suaminya, dan tidak pernah lupa Pontianak. Banyak hal yang dia lakukan dengan bantuan dari investor Belanda. Hingga sampai waktunya, suaminya meninggal 30-3-1978 dan mereka selalu menyimpan perasaan rindu dan respek yang tinggi terhadap satu sama lain.

Sampai usia yang sangat tua, dia selalu ingin sekedar berkunjung ke Indonesia dan inilah yang membuktikan dirinya sebagai istri terhormat dan intelektual yang tinggi, yang selalu memiliki kesabaran pada temperamen Asia suaminya, Ia dihargai dengan patung di taman istana sultan.

Pada bulan April 2010 anaknya Pangeran Syarif Max Yusuf Alkadrie (Max Nico, red) pergi ke Pontianak setelah 32 tahun, untuk bertemu dengan keluarganya membicarakan masalah keluarga dan juga untuk memenuhi undangan sejarawan Indonesia Mr Mahendra Petrus dari Jakarta, yang sedang melakukan penelitian untuk menunjukkan kebenaran dan menepis tuduhan, bahwa Sultan Hamid II telah mengkhianati revolusi Indonesia adalah tidak benar.

Baca Juga:  Rehal: Identitas dan Makna

Terlahir sebagai Dina (Didi) van Delden di Surabaya, Ia telah menemukan kedamaian sekarang. Jika orang lain sekarang akhirnya bekerja untuk membersihkan nama suaminya, adalah hal yang sangat menggembirakanya dan begitu disukainya.

Dina Didi Van Delden menutup mata dengan sangat damai pada 19 Juni 2010. Ratu berkebangsaan Belanda dari Pontianak ini meninggal di kota leluhur sebelah ayahnya, Den Haag, Negeri Belanda.

Dia adalah salah satu wanita Belanda yang bertemu dengan Pangeran Muda Indonesia dan menikah dengannya, sehingga kemudian menjadi ratu dalam sebuah monarki Indonesia. Bukan hanya karena status suaminya, tetapi juga karena karakternya, dia mungkin salah satu ratu paling terkenal berkebangsaan Belanda di Indonesia.

Semoga Beliau beristirahat dalam damai dan kita semua akan selalu mengingatnya. Takkan pernah dilupakan bahwa ada seorang wanita Belanda berhati mulia, yang pernah menjadi bagian dari Kesultanan Kadriah.

Selamat jalan Ibunda Maha Ratu Mas Mahkota. Catatan: ditranslate dari Blog Max Hamid Alkadrie, Putra Beliau, dalam bahasa Belanda dan dimuat pada blog http://kesultanankadriah.blogspot.com/2012/11/wafatnya-ratu-mas-mahkotadidi-van-delden_14.html. Dimuat 12 November 2012.

Baca Juga:  Dari Cupang, Siluk, hingga Nila

Untaian artikel di atas semoga turut menyibak kisah seputar Sultan Hamid II Alkadrie yang dituding pro Belanda atau kebelanda-belandaan oleh sejumlah pihak Republiken–sementara Yayasan Sultan Hamid mengusulkannya sebagai Pahlawan Nasional karena jasa-jasanya yang sangat signifikan bagi Bangsa Indonesia.

Dari artikel di atas terlihat garis tegas nasionalisme kebangsaan Sultan Hamid II Alkadrie dari sudut pandang sang istri dan putra mahkotanya Max Nico. Jangan diragukan kejuangan dari Sultan Hamid yang dalam pidatonya menyebut “Merdeka, Merdeka, Merdeka”. Juga berjuang dalam diplomasi Inter Indonesia I dan II serta Konferensi Meja Bundar.

Didi Van Delden sang isteri yang lahir dan besar di Malang, Jawa Timur, putri seorang kapten, pemilik perkebunan-pertanian menjadi saksi utama betapa keluarga besar ini sebenarnya sangat cinta Indonesia. Bahkan sampai akhir hayatnya memendam rasa yang sama.

Selamat merenungkan kisah kejuangan seorang putra terbaik bangsa yang dimakamkan di Batu Layang, Bumi khaTULIStiwa. Mari kita petik hikmah dari ini semuanya. Alfatihah bagi pahlawan kusuma bangsa. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

WhatsApp Image 2020 07 01 at 18.36.36

Prof Anhar Gonggong Mempertanyakan Patriotisme Sultan Hamid, Bandingkan dengan Soekarno dan Sultan HB-IX

IMG 20200702 105254 487

Hari Ini “Tayan” Dilaunching