Oleh: Erna Setia Putri
Juli 2004. musim panas pertama kami di Bochum, Jerman. Anak lelaki saya yang saat itu baru berumur 5 tahun berteriak sambil menunjuk keluar jendela:
“Ma lihat! Banyak anjing di halaman wohnung kita!”
Saya menjenguk ke halaman belakang apartemen kami dan mendapati begitu banyak wanita tanpa bra dan hanya memakai g string sedang telungkup berjemur. Dari kejauhan, bokong bulat mereka sudah pasti sulit teridentifikasi oleh anak usia 5 tahun yang belum pernah melihat wanita telanjang.

Setelah hari itu, pemandangan orang berjemur tanpa busana tak lagi jadi fenomena mengejutkan bagi kami sekeluarga. Hanya suami saya jadi lebih kerap menoleh keluar jendela.
Begitu pula pemandangan sesama pria atau sesama wanita berciuman mesra, laki perempuan saling raba dalam u-bhan (kereta), serta pemandangan orang bercinta (making love) di tempat terbuka. Can you imagine that? Bokep live di depan mata. Saya belajar menerima semua itu dengan arif. Meyakini bahwa itu cara hidup mereka, bukan cara hidup saya.
Berkubang setiap hari selama hampir 5 tahun dengan pemandangan seperti itu, membuat saya memiliki ‘filter dan alarm alami’ mengenai benar atau tidak benar sebuah perbuatan. Ada rules (aturan) yang merantai kaki saya tanpa saya sadari.
