Community

Nona ‘high class’

Nona ‘high class’
Dr Leo Sutrisno

Oleh Dr Leo Sutrisno

Pada suatu waktu, beberapa tahun yang lalu, saya melakukan perjalanan pulang dari kegiatan seminar di luar daerah dengan pesawat terbang. Tempat duduk saya di nomor 12C.

Pada nomor 14B duduk seorang bapak yang sudah cukup tua. Mungkin sekitar 70 tahunan, usianya. Walau bersih dan rapi, namun kemejanya terlihat sudah tua. Bahkan, ada sebaris jahitan tangan di bagian belakang bahu.

Menyusup lembut ke dalam hidung saya aroma harum rokok ‘tingwé’ – gulungan domestik dari tubuhnya. Aroma semacam ini sering saya nikmati jika sedang di atas bus kelas ekonomi di wilayah keresidenan Kedu. Rokok ini terdiri atas tembako Kedu dengan rempah ‘klembak’, ‘teki’, cengkih, dan kemenyan, dibungkus ‘klobot’ – daun bunga jagung.

Walau pun hampir seluruh penumpang sudah siap di kursi masing-masing, belum terlihat tanda-tanda pesawat akan berangkat. Sekitar sepuluh menit kemudian, munculah seorang penumpang, wanita setengah baya dengan penampilan yang membuat orang banyak berdecak ‘wah!’.

‘Miis!”, panggilnya ke salah seorang pramugari.
“Wèr sit ai?!” Lanjutnya
Seorang pramugari senior datang melayani, sambil bertanya, “Nomor berapa Ibu?”
“Madam, pliis!” Potong perempuan itu, “Portèn si” Sambungnya.