in

Kebun Umak di Kompleks TOP Munzalan

kebun umak

Panas matahari sudah terasa membakar kulit. Saya lebih memilih duduk-duduk di bawah tuturan atap sambil melihat-lihat saja keadaan di sekeliling.

Tetapi, Umak, meskipun sudah berumur 70 tahun, tetapi masih tahan panas. Beliau mencabut rumput-rumput yang mulai menyeruak di antara tanaman sayuran yang mulai tumbuh.
Rumput-rumput itu dikumpulkannya di pandukan (pembakaran). Kelak di pembakaran ini Umak menanam sayuran selanjutnya. Inilah cara masyarakat tradisional menyuburkan tanaman mereka.

Saya tahu, Umak bersemangat melihat mentimunnya yang mulai balam. Tumbuh dan berwarna hijau-agak kebiruan. Tanda tanaman itu subur.

Beliau juga senang melihat singkong-singkong yang mulai berdaun. Begitu juga kala melihat pisang dan tebu yang memucuk.

Keladi hijau sudah beberapa kali panen. Sayuran jenis penurun darah ini memang menjadi favorit kami kalau tensi darah meninggi.

Senang sekali rasanya melihat Umak bersemangat. Tiap kali kami ke Kompleks TOP Munzalan Umak ikut dan beliau memiliki kegiatan khusus: berkebun.

Lebih senang lagi melihat Umak bahagia. Beliau seakan hidup dalam lingkungan yang biasa, lingkungan alam dan hutan.

Terima kasih Bang Nur Is, Bos Kompleks, dan beberapa teman lain yang telah memberikan kemudahan dan sokongan. Barakallah. (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

literasi

Menjaga Asa Literasi

IMG 20210330 WA0003

Kades Lemukutan Apresiasi Giat Dosen dan Mahasiswa Prodi DKB Arsitektur Polnep