in

Kakek Min,

dr leo sutrisno
Dr Leo Sutrisno

OLeh: Leo Sutrisno

Sudah lebih dari lima belas hari saya menunggu layar plasma langit terbuka. Namun hingga pagi ini belum ada tanda-tanda kemunculannya. Seperti biasa saya berada di sekitar sumber di bukit bebatuan belakang Puskesmas. Minikmanti bunga-bunga liar yang tumbuh subur di sekitar sumber. Beberapa jangkrik yang silih berganti menemani.

Dari bawah pohon Jambu Mete, terlihat langit berwarna biru tua di pagi hari 30 Juni 2020 pukul 09:10 ini terasa memberi harapan. Bunga Air Mata Pengantin (Antigonon leptopus ‘alba’) dengan warna ‘pink’ yang sedang mekar di bebatuan lereng bukit dipadu dengan warna daunnya yang hijau tua serta langit biru benhur menyajikan lukisan alam yang susah dilupakan begitu saja.

Lewat gelombang radio yang dipantulkan oleh butir kristal-kristal es di lapisan stratosfir, diberitakan bahwa sampai hari ini sudah ada 32 teman sejawat yang menyusul saya. Ada yang berangkat sendirian. Ada juga yang berombongan bersama kolega atau kawan perawat. Bahkan ada yang seluruh anggota keluarga pergi berurutan. Misalnya, kolega dari Jawa Timur, diawali si ibu, seorang bidan yang terinfeksi waktu sedangn menolong persalinan seorang ibu. Seminggu kemudian sumai, perawat menyusul. Berikut anak lelaki satu-satunya, dokter umum terinfeksi, dan menyusul kedua orang tuanya. Belakangan anak menantu, juga dokter seminggu yang lalu menyusul suaminya. Habislah keluarga tersebut.

Ada baiknya, jika semua orang memperhatikan kesehatan diri masing-masing. Walau tidak disengaja, virus yang terbawa dengan mudah menginfeksi kami ketika mereka sedang memerlukan perawatan kami. Kami yang menjadi kurban.

Memang, tidak semua, para kolega yang menyususl saya, semata-mata karena Covid-19 tetapi juga ada beberapa yang komorbid. Namun, pemicunya tetap saja Covid-19. Mereka, seperti saya terpapar karena sedang menangani pasien, baik yang positif terpapar Covid-19 amupun yang OTG-orang tanpa gejala.

Maaf, layar plasma langit sudah mengembang, membentang di ngkasa hingga di batas cakrawala. Di layar sana digambarkan saya baru saja selesai membantu persalinan seorang ibu muda yang sejak kemrin sore diobservasi. Pagi ini anaknya lahir dengan selamat. Oleh kakeknya, si bayi langsung diberi nama Maria Ulfah.

Baca Juga:  Napak Tilas Awal Berdirinya Kesultanan Kadriah Pontianak

Selesai mencuci tangan, belum sempat minum, saya langsung pergi bersama perawat lain mengunjungi Kakek Min. Katanya, ia sakit tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengantarkan ke Puskesmas. Kakek Min meminta saya yang memeriksa.

Dengan ‘speed boat’ Puskesmas, kami menyusuri pantai yang ada di punggung seberang bukit batu belakang Puskesmas. Sesunggahnya sepanjang pesisir yang kami lewati cukup indah, namun saya tidak tergerak untuk menikmatinya. Dalam hati terbayang almarhum kakek yang meninggal karena tidak sempat diperiksa dokter. Lokasinya yang menghalangi kunjungan dokter. Harus melewati jalan setapak.

Ketika kami sampai di tempat, pintu rumah sudah terbuka. Salam kami di sambut oleh suara lirih Kakek Min dari dalam. Ia mempersilahkan kami langsung naik ke rumah dan menuju kamarnya.

Di kamar, kami dapati sepasang kakek nenek tergolek tidur di lantai tanpa alas apa pun. Memang, karena bangunan tua, lantai rumah ini terbuat dari papan kayu ulin. Jika di rawat tampak hitam mengkilap.

Si nenek terlentang tak berdaya. Kakinya menjulur ke arah dinding dan kepalanya ke arah pintu kamar. Si kakek tergolek lemah di sebelah kanannya.

“Maaf, dokter. Terima kasih mau menengok kami” Kakek Min memulai pembicaraan. Suaranya sudah sangat lirih.

“Maaf, saya tiduran, sudah tidak mampu berbuat apa pun. Tangan kanan saya sudah mati rasa. Tiga tahunan merawat nenek” Tangan kirinya menepuh tubuh istrinya.

“Ia tergolek seperti orang mati. Tetapi, masih mau makan. Tiap hari saya rawat sendiri. Memandikan. Memasakkan makanan kesukaannya. Menyuapi. Dan, juga membersihkan kotorannya. Dia masih kuat. Saya yang kalah” Ia berhenti. Napasnya terengah-engah.

“Kakek diam dulu, ya. Saya periksa”. Potong saya.

Sebelum pulang saya tinggalkan sejumlah obat racikan untuk diminum. Tentu juga sedikit uang untuk membeli lauk barang dua tiga hari ke depan.

Terbitan penelitian Riskesdas 2015 menyebutkan bahwa angka kesakitan lansia Indonesia 25.05%. Dilaporkan juga ada enam penyakit yang paling sering diderita para lansia. Dari yang paling tinggi penderitanya adalah: hipertensi, artitis, paru obstruktif kronis, jantung, gagal ginjal dan diabetes. Tetapi, yang diderita Kakek Min tidak satu pun mengarah ke sana.

Baca Juga:  Napak Tilas Awal Berdirinya Kesultanan Kadriah Pontianak

Dalam WA dari ayah tertulis “Pak Min itu, Ia pesuruh. Jaman saya di sana sudah tua. Dia termasuk salah satu yang bekerja dari awal di SMA tempat ayah pertama kali mengajar. Ia orang baik. Para murid sangat menghormatinya. Kabarnya, setelah pensiun ia kembali ke kampungnya, di Kebumen. Tak tahu kenapa justru kau temukan di sini”

“Katanya, ia dan istri mengikuti anak yang menjadi guru SD di ini. Namun, ketika anaknya dipindah tugas, mereka memutuskan tinggal di sini saja” Balas saya ke ayah.

Lewat seorang perawat yang pergi mengunjunginya lagi satu mingu berikutnya, saya titipkan sejumlah uang kepada Kakek Min. Sejumlah uang yang lain juga saya titipkan kepada Pak RT untuk persiapan jika terjadi sesuatu.

Dua minggu kemudian, Kakek Min meninggal. Sehari berikutnya disusul istrinya. Karena sedang musim gelombang tinggi, anaknya tidak dapat pulang. Syukurlah semua sudah diselesaikan oleh warga setempat di bawah arahan Pak RT. Terima kasih, Pak RT.

Layar plasma langit sudah tergulung lagi. Saya kembali ke markas. Kembali ke bebatuan sekitar sumber di belakang Puskesmas sambil menantikan kehadiran belalai bianglala.

Senja di ufuk barat telah memanggil serombongan anak muda. Mereka, sepasang-sepasang, berbondong ke ujung bukit. Dalam keheningan senja, mereka asyik memandangi permainan untian warna dari pantai pasir putih yang perlahan digantikan oleh kehijauan laut hingga di batas cakrawala langit yang berubah-ubah warna dari kuning, jingga, merah, dan akhirnya hitam kelabu.

Nyanyian jangkerik siap memanggil kawanan katak pantai untuk bermain orkestra alam menjambut kedatangan sang Bulan. Gelora ombak laut pasang naik pun tak mampu menaklukaan ketenangan malam. Kerlipan lampu perumahan di bukit seberang menandingi kecerlangan bintang-bintang di angkasa.

Pakem Tegal, 2 Juli 2020

Written by Leo Sutrisno

IMG 20200702 105254 487

Hari Ini “Tayan” Dilaunching

WhatsApp Image 2020 07 03 at 06.12.09

Yayasan Sultan Hamid Cq Sultan Hamid II Institute Open Recruetment Volunteer