in

Agama Sunda Wiwitan

Penulis, di bangunan spiritual Sunda Wiwitan. Foto Dok FB Andreas Harsono
Penulis, di bangunan spiritual Sunda Wiwitan. Foto Dok FB Andreas Harsono

Oleh: Andreas Harsono

Kami mengunjungi sebuah kuil Katolik dan sebuah makam Sunda Wiwitan di dekat pintu masuk rute pendakian di Gunung. Ciremai, Kuningan, Pulau Jawa di akhir pekan.

Sunda Wiwitan adalah agama lokal di kalangan etnis Sunda. Ini adalah iman yang cukup terkenal. Pada tahun 1937-38, ketika Gunung. Ciremai diperkirakan meletus, pemimpin kelompok ini mendaki gunung dan membawa seperangkat instrumen gamelan. Dia dan ratusan anggota timnya memainkan gamelan selama berminggu-minggu. Erupsi tidak terjadi. Mereka percaya pada doa mereka.

Pada tahun 1964, pemerintah Indonesia melarang masyarakat ini, lalu disebut ′′ Agama Djawa Sunda,” yang menyatakan bahwa hal itu menyebarkan mistisisme dan spiritualisme di antara orang Sunda. Saat itu juga menjadi tren setter dalam menggurita komunitas spiritual di Pulau Jawa.

Pada Januari 1965, Presiden Sukarno mengeluarkan hukum penistaan agama yang terkenal, memberikan sanksi hanya enam agama di Indonesia: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Ini menandai awal diskriminasi terhadap kelompok agama lokal di Indonesia. Perkiraan mengatakan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 420 kelompok agama asli. Anggota mereka tidak bisa mendapatkan kartu identitas, akta perkawinan, akta kelahiran dll. Kecuali mereka berubah menjadi salah satu dari enam agama global itu. Di Indonesia, kartu identitas menyebutkan agama pemegang.

Ribuan orang Sunda Wiwitan, termasuk pemimpin utama mereka, beralih ke Katolik, mengubah ′′ paseban ′′ mereka menjadi sebuah katedral Katolik. Beberapa dekade kemudian, ketika situasi tenang, banyak orang Sunda Wiwitan ini secara terbuka, tetapi tidak secara hukum, dikonversikan kembali ke Sunda Wiwitan.

Mereka biasanya memakai kalung dengan liontin salib Kristen jika mereka adalah orang Kristen. Banyak juga yang beralih ke Islam. Pesantren Islam menyediakan listrik kepada kuil Bunda Maria. Tetapi di dalam kantong mereka, mereka juga memiliki liontin Sunda Wiwitan (gunung, elang dan dua ular). Saya menyebutkan tentang kelompok ini dalam laporan Human Rights Watch yang diterbitkan tahun 2013 tentang regresi kebebasan beragama di Indonesia.

Tidak terkejut bahwa makam baru mereka-untuk pemimpin saat ini dan istrinya-dibangun di samping gua Bunda Maria. Sudah biasa menemukan keluarga di sini dengan tiga agama: Islam, Katolik atau Protestan. Tetapi iman latar belakangnya adalah Sunda Wiwitan.

Saya menghabiskan akhir pekan berbicara dan bertemu dengan banyak orang Sunda Wiwitan ini. Aku melihat dupa terbakar. Aku melihat pohon-pohon besar. Saya menyaksikan pemahaman mereka tentang diskriminasi dan toleransi agama mereka. Saya belajar bahwa lima dekade setelah larangan, orang-orang ini masih bertahan. Sangat menarik melihat agama kecil menghadapi negara bagian dan kekuasaan raksasa lainnya. (*Penulis adalah pembina Yayasan Pantau dan aktif mendidik narrative reporting kepada wartawan dan aktivis di seluruh Indonesia. Peneliti di Human Right Internasional. Menetap di Jakarta).

Written by teraju.id

WhatsApp Image 2020 09 17 at 17.03.11

HASAN KARMAN: “PERLUNYA CALON KETUA UMUM YANG MEMILIKI DUKUNGAN FINANSIAL & POLITIK, AGAR DAPAT MEMBAWA PERUBAHAN PADA MABT.”

seminar nasional Fraksi Nasdem di DPR RI

Sejarah Membuktikan bahwa Penjara Bukan Berarti Seseorang Melulu Bersalah–Lihat Kisah Nabi Yusuf