Oleh: Leo Sutrisno
Suatu hari ada seorang anak, berusia enam tahun, yang berjalan sepanjang trotoar di sebuah pusat perbelanjaan. Ia ke luar masuk toko dan kios.
Di setiap kios yang dimasuki, kepada pramuniaga ia bertanya dengan sopan: “Apakah di sini menjual Tuhan? Saya akan membeli satu saja”
Para pramuniaga menganggap itu pertanyaan olok-olok saja. Maka, jawabannya pun berupa gurauan, bahkan ada yang mengolok-olok. Walau pun sepanjang hari menerima jawaban semacam ini, ia tetap tidak putus harapan. Ia berjalan terus hingga menjelang magrib.
Pada saat suara azdan mengalun, ia memasuki sebuah toko kecil yang terletak di ujung jalan. Kepada seorang penjaga, seorang kakek berusia enam-puluhan tahun, ia bertanya:
“Kek, apakah di toko ini menjual Tuhan?!”
Si kakek mendekat, sambil berjongkok di depan anak itu, ia bertanya: “Kenapa engkau bertanya seperti itu, Cu?”
Wajah anak ini langsung berbinar-binar dan menjawab: “Kalau menjual Tuhan, saya akan membeli satu, Kek?”.
Sembari menepuk pundak si anak, kakek bertanya lanjut: “Kenapa engkau ingin membeli Tuhan? Untuk apa?”
Wajah anak ini semakin berbinar dan dengan lantang ia menceritakan siapa dirinya.
