Kultur

Anak yang Membeli Tuhan

Anak yang Membeli Tuhan
Dr Leo Sutrisno

“Kek, sejak masih bayi kedua orang tuaku telah tiada. Katanya, kecelakaan. Hanya saya yang selamat. Saya, sekarang ikut paman. Ia kerja bangunan. Tetapi, kini ia di rumah sakit karena jatuh dari lantai dua yang sedang dibangunnya” Ia berhenti sejenak. Katanya lanjut.

“Kata dokter berkata bahwa hanya Tuhan sebagai obatnya. Karena itulah, saya ingin membeli Tuhan. Satu, saja!”
“Boleh?!”
“Boleh, boleh Cu. Ayo masuk. Duduklah di kursi itu dulu. Saya ambilkan!”
“Sambil menunggu. Kau minum ini dan makanlah kue bekal Kakek ini, ya”

Sambung si kakek. “Berapa uangmu?”
“Satu keping ini, Kek”
“Baik. Kau anak yang pintar. Pas harga satu Tuhan! Mana uangnya?”

Anak ini menyerahkan sekeping uang, yang digenggamnya dari pagi tadi, kepada si kakek.

“Baik, sebentar, ya! Saya ambilkan”

Selang beberapa menit kemudian, si kakek muncul kembali sambil menenteng sebotol madu hutan asli.

Katanya: “Ini yang kau cari. Bawalah ke pamanmu. Minumkan sesendok makan setiap sebelum makan, selama di rumah sakit. Bawalah juga minuman ini dan kue itu untuk kau makan nanti malam”

Begitu sampai di luar toko, anak ini meloncat-loncat kegirangan sambil berlari kembali ke rumah sakit. Di kamar ia berteriak. “Paman, paman, aku telah membelikan Tuhan untukmu”.