Di samping pamannya ia tertidur lelap hingga pagi berikutnya. Seorang perawat membangunkan. Ia diajak mengikuti pamannya dipindah ke rumah sakit yang memiliki peralatan lebih lengkap.
Ketika pamannya sudah sembuh dan diijinkan ke luar dari rumah sakit anak itu bercerita bahwa hari itu ia membeli Tuhan di sebuah toko milik seorang kakek..
Sambil berjalan di lorong, dokter yang merawatnya menunjukkan uang tagihan perawatannya. Si paman terkejut. Biaya itu tidak mungkin dapat ia penuhi sekalipun harus bekerja keras bertahun-tahun. Ia tertunduk kelu.
“Oh, jangan dipikirkan, Pak!. Sudah dibayar lunas. Ada seorang dermawan yang membayar semua biaya ini. hati-hati ya. Selamat jalan” kata si dokter sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
Di jalan pulang ia mengajak keponakannya singgah dulu di toko yang menjual Tuhan itu. Ia ditemui oleh seorang pramuniaga.
“Maaf, Pak. Bos sedang berlibur ke luar negeri. Mungkin agak lama di sana. Tetapi, sebelum berangkat ia menitipkan surat ini untuk Bapak”
Dengan tidak sabar, segera amplop di sobek dan dibukan suratnya.
