Oleh: Yusriadi
Kalimantan Barat dikenal keragaman suku dan budayanya. Keragaman itu telah menjadi kebanggaan daerah ini. Potret kecil keragaman itu ada pada keluarga Mak Ngah.
Tahun 1992. Kala itu Mak Ngah masih tinggal di rumah lama, di kampung Riam Panjang lama. Kampung Riam Panjang lama membentang memanjang mengikuti lekuk Sungai Pengkadan, anak Sungai Embau, cabang utama Sungai Kapuas di Kapuas Hulu.
Malam itu, keluarga Mak mengadakan pesta: Malam Bejenjang untuk anak pertamanya Mbok Lena. Mbok Lena menikah dengan orang Jawa yang sudah menetap di Pontianak, ibukota Provinsi Kalbar.
Malam Bejenjang adalah salah satu tradisi dalam pernikahan orang Melayu di Kapuas Hulu. Pasangan pengantin duduk berdampingan di pelaminan dengan tujuan untuk ditunjukkan kepada khalayak bahwa mereka sudah menikah.
Malam itu banyak sekali orang yang datang. Baik dari tetangga se kampung maupun dari luar kampung.
Warga kampung memang menjadikan kegiatan Malam Berjenjang sebagai malam hiburan. Menyaksikan pasangan baru dan hiburan band lokal.
Apalagi kali ini yang menikah adalah orang jauh. Selama ini jarang sekali orang jauh menikah di kampung. Hanya ada satu dua saja. Selebihnya, orang menikah dengan tetangga sekampung atau dengan orang dari kampung dekat.
