Kultur

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Mak Ngah yang ramah dan hangat dengan bahasa campurnya itu membuat menantu-menantunya cepat menguasai bahasa Ulu. Semuanya kini mengerti. Bahkan, 4 dari 5 menantu beliau dapat menggunakan bahasa Ulu untuk berkomunikasi dengan Mak Ngah. Walaupun diakui, semuanya lebih sering menggunakan bahasa campuran. Bahasa Melayu Ulu, campur bahasa Melayu Pontianak, campur bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa ini yang membuat keragaman terangkai menjadi indah.

Sementara dengan besannya, Mak Ngah berkomunikasi semampunya. Ada hambatan karena jarak tempat yang membuat mereka tidak terhubung. “Kalau sudah ketemu, ya…biasa saja,” ujarnya. Maksudnya, perbedaan suku dan agama tidak menghambat dan membatasi kehidupan mereka.

Akhi, menantu Mak Ngah, mengatakan dalam keluarga mertuanya memang penuh keragaman. Suku-suku di Kalbar ada di sini. Sejauh ini tidak ada pandangan kurang-kurang tentang perbedaan suku tersebut.

Dalam berkomunikasi mereka mengaku sudah paham dengan latar belakang masing-masing. Sehingga tidak ada ada hambatan.

“Sebulan sekali kita pasti ada ketemu. Kalau kumpul, macam tak ada beda-lah antara satu dengan yang lain,” katanya.

Bu Tasmi, besan Mak Ngah mengatakan, pada mulanya, ada terasa “sesuatu” ketika anaknya menikah dengan anak Mak Ngah, dan memasuki keluarga dengan banyak perbedaan suku. Tetapi, rasa itu hanya sesaat karena kemudian disadari perbedaan itu biasa. “Sama saja, tak ada masalah karena berbeda itu,” ungkapnya.