Kultur

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Tetapi, meskipun singkat, setiap kejadian memberikan pengalaman berharga padanya. Mak Ngah belajar bahasa Indonesia, bertambah satu dua kosa kata. Pada sisi yang lain, Mak Ngah menjadi mengenal dunia dan kehidupan lain selain lingkungan kampungnya.

Beliau pun sedikit banyak mengetahui ada orang Jawa, orang Pontianak, orang Batak, dan berbagai suku lain. Pengetahuan ini membentuk dasar untuk hari tuanya kemudian. Termasuk kesediaan menyambut menantu bersuku Jawa.

Menerima menantu berbeda suku memang konsekuensi keluarga ini. Anak-anak semuanya bersekolah. Merantau ke kota untuk mendapatkan pendidikan tinggi.
Jauh perjalanan. Banyak yang ditemukan. Salah satu di antaranya adalah jodoh. Faktanya, 4 dari 5 anaknya menemukan jodoh di rantau orang.

Anak tertua, Mbok Lena, seorang perempuan, dengan susah payah merintis jalan pendidikan bagi dirinya dan adik-adiknya.

Maklum, tahun 1980-an, jalan untuk pendidikan tinggi bagi seorang anak perempuan masih merupakan jalan bersemak belukar. Jalannya masih susah dilalui. Terlalu banyak hambatan, khususnya hambatan psikologis orang tua.

Secara umum orang tua takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada anaknya. Rasa sayang pada anak membuat mereka menjadi khawatir.

Dunia luar bagi mereka ketika itu dianggap sebagai dunia yang ganas. Lelaki asing menjadi ancaman bagi anak perempuan mereka.