Kultur

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Semasa kuliah di Pontianak, anak tertua menemukan jodohnya. Tahun 1992 lamaran dari dari tetangga keluarga di Pontianak, tempat anaknya pernah menumpang tinggal.
Pemuda itu suku Jawa. Berbeda dibandingkan suku keluarga Mak Ngah, yang Melayu.
Lamaran itu diterima. Meskipun sebenarnya dengan berat hati. Mak Ngah takut anaknya nanti dibawa ke Jawa. Kalau itu terjadi berarti mereka akan berpisah –mungkin—selamanya. Jawa, dalam pikiran mereka adalah tempat yang jauh nun di sana. Jauh di seberang lautan. Tempat yang tidak mungkin didatangi.

“Apalagi ada yang menakut-nakuti…Sempat juga khawatir juga waktu itu. Tetapi, kemudian setelah mendengar cerita anak, perasaan itu tidak ada lagi,” tambahnya.
Mak Ngah kemudian membuktikan bahwa kekhawatirannya tidak beralasan. Beberapa tahun setelah itu Mak Ngah sendiri pergi ke Jawa bersama menantu dan anaknya, mengunjungi besan di sana.

Setelah itu, wawasan semakin luas. Hati dan pikiran semakin terbuka pada dunia dan orang luar daerah. Tambahan lagi kampung semakin terbuka. Lalu lintas orang semakin lancar. Semakin banyak orang kampung yang menikah dengan orang luar.
Sebenarnya, Mak Ngah tidak menerima semuanya begitu saja. Dalam relung hatinya dia memang menghindari menantu dari kalangan tertentu. Terutama karena kesan-kesan umum tentang kelompok tertentu.