Oleh: Ambaryani —-
Kuda lumping. Belasan tahun sudah saya tidak pernah menyaksikan kesenian ini. Sejak saya tidak lagi tingal di kampung, Satai Sambas.
Sesekali saya pernah dengar alunan musik kuda lumping di Pontianak. Tapi, untuk benar-benar menyaksikan jarak dekat, belum pernah.
Hari ini, langkah kanan kata orang Melayu. Di halaman keraton Kubu ada pertunjukkan kuda lumping dari kelompok kesenian Rukun Mudo, Desa Pinang Luar. Kesenian ini tampil dalam rangka Lokakarya dan Festival Budaya Desa program Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) Selasa 5 Desember 2017.
Rasanya luar biasa. Senang, sekaligus lepas rasa rindu saya pada kesenian ini. Serasa nonton kesenian tradisional di kampung sendiri.
Menjelang siang, gendang, gamelan, gong mulai ditabuh. Suara sinden mengalun merdu. 4 anak muda usia SMP, yang sudah berpakaian batik merah, selendang kuning melingkar di pinggang, kepala berikat syal motif batik hitam, celana hitam seperempat (tanggung), kaki dipasangi kerincing, kuda lumping plus pecut dicangking.
Mereka berbaris membentuk 1 formasi. Melenggak-lenggok menari mengikuti alunan tabuhan gamelan. Warga setempat yang hadir langsung berkumpul mengerumuni.
“Ceplas, ceples”, suara pecut mereka lecutkan ke permukaan semen.
