Lebih 15 menit mereka menari serasi. Sang pawang menunggu di tepi gelangang pertunjukan sambil memegang pecut khusus. Berkaos belang merah putih, baju luar, celana, blangkon yang juga berwarna hitam.
Di ujung pertunjukan, tiba-tiba 1 pemain berguling. Hampir menabrak penonton. Saya ikut mundur. Dia kesurupan. Sang pawang turun. Digiringnya pemain itu ke tengah lapangan. Pecut yang dipegangnya, ditempelkan ke hidung pemain yang kesurupan. Pemainnya manut.
Tak lama kemudian ada 1 lagi pemain yang kelojotan di atas panggung.
Kembalikesurupan, dan kemudian turun menggunakan topeng. Topeng kucingan, kata orang sini. Istilah di kampung saya, barongan. Penonton menatap . Ada yang berbisik-bisik.
“Tak saket ke die tu teguling-guling?”
Perhatian warga terhadap kesenian ini besar. Mereka antusias.Kesenian tradisional yang masih terus dilestarikan, dan sudah mendapat pengakuan di tingkat provinsi. Mengantongi sertifikat kebudayaan.
Ada upaya untuk terus melakukan pembinaan, dari tingkat anak-anak hingga remaja.
“Biar ada generasi penerusnya”, kata Sartono penggerak kesenian ini. (*)
