Kultur

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Satu Bahasa, Satu Keluarga, Lima Suku Bangsa

Menikah dengan orang jauh belum biasa pada masa itu. Malahan, sering kali menikah dengan orang jauh hanya terjadi karena terpaksa atau karena keinginan yang sangat kuat salah satu pasangan. Kalau bisa menghindar lebih awal, orang tua lebih banyak mengelak. Caranya, segera mencarikan jodoh untuk anak perempuan.

Tapi, keluarga Mak Ngah berbeda. Sejak awal mereka memang tidak menolak rencana pernikahan eksogami itu.

Keluarga Mak Ngah selama ini sering kedatangan tamu. Sejak suami beliau menjadi kepala kampung, tahun 1978, hampir setiap bulan ada saja orang jauh yang datang dan menginap di rumah.

Mulai dari pedagang keliling –biasanya orang Jawa menjual kain dan mainan, hingga pejabat kecamatan dan kabupaten yang sedang menjalankan tugas tertentu. Sesekali juga datang orang benar-benar jauh untuk beraneka tugas.

Meskipun menyambut dan mendampingi tamu bukan tugas beliau, tetapi, sekali dua, beliau terserempak juga. Tamu mengajak bicara dan bertanya untuk mencairkan suasana.

“Kalau sudah diajak omong, ya… menyahut jugalah,” cerita Mak Ngah.
Karena tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia, Ngak Ngah tidak dapat melayani mereka dengan baik. Kalau itu dia hanya mengerti, tetapi tidak bisa mengucapkannya.

Maka percakapan pun hanya berlangsung singkat dengan biasanya rasa malu –tepatnya minder, pada dirinya yang tidak bisa berbahasa Indonesia.