“Yang namanya orang tua tetap ada rasa khawatir,” katanya. Tetapi ketika waktunya tiba, Mak Ngah mengaku tetap menerima. Siapa pun. Jodoh adalah ketetapan Tuhan yang tidak bisa ditolak.
Hingga kemudian semua anaknya menikah. Anak kedua menikah dengan orang Jawa juga. Anak ketiga menikah dengan orang Ahe atau Dayak Kanayatn. Anak ke empat menikah dengan orang Bugis. Anak kelima menikah dengan orang Tiochuew atau dikenal sebagai orang Tionghoa.
Lalu, tahun 2018 cucu pertamanya menikah dengan orang Melayu Sambas, dan cucu keduanya menikah dengan orang turunan Arab. Sebenarnya, lebih unik lagi, besan Mak Ngah, tiga di antaranya beragama lain. Satu beragama Kristen, satu Khatolik dan satu lagi Khong Hucu.
Kesadaran bahwa orang tidak berasal dari suku dan agama yang sama, dan jodoh di tangan tuhan, membuat Mak Ngah menerima takdir, dan memperlakukan menantunya sama. Mereka menjadi anak-anaknya juga.
Ketika mereka datang Mak Ngah menyambut dengan terbuka. Menggunakan bahasa Melayu Ulu Kapuas, atau bahasa Indonesia yang dicampur bahasa Melayu Ulu Kapuas untuk anak menantu dan cucu menantu yang tidak bisa berbahasa Melayu Ulu.
