Oleh: Heyder Affan
SAYA dan kakakku pernah menyebutnya sebagai ‘guru sejarah dan politik pertama’.
Tentu saja, janganlah membayangkan sosoknya sebagai guru sejarah yang kadang-kadang digambarkan membosankan di depan klas.
Lupakan pula deretan peristiwa sejarah, nama pahlawan, dan tanggal lahirnya, yang dulu barangkali didiktekan guru dan murid-muridnya diminta menghafalkannya.
Seringkali dalam suasana cair, santai, dan acapkali lewat kelakar, dia secara tak langsung merangsang sebagian anak-anaknya untuk berimajinasi tentang orang-orang yang ‘membayangkan dan mengusung’ ide tentang Indonesia – di pihak yang kalah atau menang.
Ingatan atas sosok-sosok dalam sejarah yang dia gambarkan, nyaris tak lekang oleh waktu. Mungkin saja ini bisa terjadi, selain disampaikan berulang-ulang, dia mengisahkannya dengan kacamata atau pengalamannya secara pribadi, yang seringkali diwarnai seloroh.
Ada tak terbilang kisah seperti itu yang membuat anak-anaknya kemudian terpancing untuk berkhayal dan coba-coba untuk mengidentifikasinya – rasa ingin tahu itu kelak berlanjut untuk mengetahui pemikiran dan sepak terjang mereka dalam bertaruh untuk negeri ini.
