Namun rupanya pilihan hidupnya bukanlah dunia politik atau kewartawanan. Dia memilih menjadi guru – profesi yang dia geluti hingga alzheimer merenggut ingatannya, sebelum tutup
usia pada 2002. (Doa-doa terbaikku untukmu!).
Kelak, setelah Indonesia merdeka, dia bersama kawan-kawannya mendirikan kursus bahasa Inggris bernama “Progresif” di Palembang.
Profesi ini terus berlanjut. Sebelum dinasionalisasi oleh Sukarno, dia bekerja sebagai guru Bahasa Inggris bagi para pegawai lokal di perusahaan minyak Amerika Serikat, Stanvac, di Palembang – setelah memilih pensiun dini pada akhir 1960an, dia memboyong istri dan anak-anaknya pindah ke Malang dan mendirikan kursus Bahasa Inggris.
Begitulah. Namun bapakku bukanlah tipikal ideolog – dia tak ‘mendoktrin’ anak-anaknya untuk “jadi apa”. Pria berwatak lembut, soliter, dan nyaris pemalu, ini bukanlah sosok yang secara alamiah gemar menghakimi sosok-sosok dalam sejarah yang berbeda dengan ‘pilihan’ politiknya.
Belakangan, aku menganggapnya barangkali begitulah tipikal guru – yang berjarak dengan peristiwa. Saya masih ingat, selain mengajar murid-muridnya, dia acap menyepi dengan menghabiskan waktu di meja kerjanya: membaca.
