Opini

AHMAD, peci miring ke kiri ala Musso, dan guru politik pertama

AHMAD, peci miring ke kiri ala Musso, dan guru politik pertama

Besar dalam tradisi tarekat alawiyin dari garis ayahnya (rasanya aku belum melihat dia menggosip! 😁), tumbuh dalam tradisi politik dan kultural NU dengan sentuhan minimal Masyumi dari keluarga besarnya di Palembang, tapi garis ibunya yang etnis Jawa tumbuh dan besar dalam garis Sukarnois – barangkali pola hibrida inilah yang membentuk caranya berpikir yang tidak serba oposisi biner.

Di masa tuanya, seingatku, dia tidak pernah menggambarkan secara negatif rezim Suharto ( meski dia memaklumi ketika aku memilih golput dalam Pemilu 1992 dan bereaksi biasa-biasa saja ketika kupasang foto Sukarno dan poster ‘Tanah untuk Rakyat’ di dinding meja belajarku).

Dia juga tak alergi dengan ajaran Sukarno – dia bahkan mengajak anak-anaknya berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Keluarga besar ibunya adalah pengikut Sukarno di Malang selatan.

Dalam beberapa kesempatan, bapakku tak menutupi kekagumannya atas bapak Turki modern yang sekuler, Kemal Pasha, meski di masa tuanya dia memasang sticker ‘I love Islam’ di lemari buku kesayangannya. (Di lemarinya itu, ada belasan majalah kiriman dari sahabat penanya dari Turki. Di dalamnya, kutemukan poster-poster atau artikel tentang Ataturk).