Oleh: Nur Iskandar
Pada Minggu, 24/11/19 pagi saya menapaki kembali jejak Sidak Sangau…katanya Gajah Madah asal Kalbar. Benarkah? Ini tantangan ilmiah untuk kita semua.
Secara penamaan Gajah itu adalah nama spesies hewan yang bertubuh besar. Habitat gajah ini adanya di Lampung atau Pulau Sumatera. Uniknya di Kalimantan Barat ada penutur etnik yang bilamana terkejut melihat sesuatu yang besar bilangnya, “Gajaaaah.” Penuturan ini secara harfiah tidak lazim sehingga perlu expedisi bahasa. Namun secara kefaunaan, Kalimantan memang punya spesies gajah hutan yang kini semakin langka. Untuk itu perlu gabungan riset expeditif antara socio linguistik dengan zoologi.
Kata Madah juga hidup sebagai bahasa Sidak Sangau yang lagi lagi berarti “besar”. Saking besarnya imaji pelisanan atas imaji bayangan pikiran plus perasaan malah dianggap hayal bahkan bual. So besar kuadrat itulah adagium Mahapatih Gajahmada (GJM) bertagline Soempah Palapa… coba bayangkan bagaimana seorang lelaki muda bisa bersumpah untuk puasa makan pala dan rempah rempah alias puasa mutih (Palapa) sebelum bersatunya Nusantara. Padahal saat itu belum ada Google Maps? Internet? Website? Kapan dia expedisi Nusantara? Kok bisa bersumpah palapa? Sesuatu yang menjadi NKRI. Indonesia Raya.
