Opini

AHMAD, peci miring ke kiri ala Musso, dan guru politik pertama

AHMAD, peci miring ke kiri ala Musso, dan guru politik pertama

Cara berpikirnya yang tidak ‘politicking’ dalam melihat berbagai peristiwa di sekelilingnya, nantinya menguatkan dugaanku di awal bahwa dia adalah sosok yang tidak pernah mendiktekan cara berpikirnya kepada anak-anaknya. Terlihat sekali dia membiarkan anak-anaknya memilih jalan pikirannya sendiri.

Dengan enteng hati, dia seolah-olah menempatkan segala kejadian di sekitarnya sebagai peristiwa belaka – yang dalam hitungan detik atau menit kemudian menjadi sejarah.

Itulah sebabnya, barangkali, dia santai saja di hadapan anak-anaknya, mengibaratkan gaya memiringkan peci hitamnya ke arah kiri, “mirip yang dilakukan Musso…” Dia biasanya mengutarakan kisah ini dengan terpingkal.

Kini, 18 tahun kemudian, pada Hari Guru Nasional, setelah Ahmad -ayahku- meninggal, rasanya saya tidak salah meyakini bahwa dialah guru sejarah dan politik saya yang pertama. #harigurunasional2020. (Penulis adalah jurnalis profesional menetap di Jakarta. Mantan aktivis pers mahasiswa era 1990)

Keterangan foto: