Cara berpikirnya yang tidak ‘politicking’ dalam melihat berbagai peristiwa di sekelilingnya, nantinya menguatkan dugaanku di awal bahwa dia adalah sosok yang tidak pernah mendiktekan cara berpikirnya kepada anak-anaknya. Terlihat sekali dia membiarkan anak-anaknya memilih jalan pikirannya sendiri.
Dengan enteng hati, dia seolah-olah menempatkan segala kejadian di sekitarnya sebagai peristiwa belaka – yang dalam hitungan detik atau menit kemudian menjadi sejarah.
Itulah sebabnya, barangkali, dia santai saja di hadapan anak-anaknya, mengibaratkan gaya memiringkan peci hitamnya ke arah kiri, “mirip yang dilakukan Musso…” Dia biasanya mengutarakan kisah ini dengan terpingkal.
Kini, 18 tahun kemudian, pada Hari Guru Nasional, setelah Ahmad -ayahku- meninggal, rasanya saya tidak salah meyakini bahwa dialah guru sejarah dan politik saya yang pertama. #harigurunasional2020. (Penulis adalah jurnalis profesional menetap di Jakarta. Mantan aktivis pers mahasiswa era 1990)
Keterangan foto:
