Mulai foto Presiden Suharto berseragam militer lengkap deretan pangkat yang dia pasang di ruang klas privatnya; kisah peci Musso (pimpinan PKI yang tewas dalam ‘Madiun Affair’ 1948) yang ‘miring ke kiri’, hingga pengalamannya yang diwarnai heroisme; satir, ironi di masa pergerakan (“…kami tanggalkan identitas ‘sayid’, demi kesetaraan,” ungkapnya saat bergabung dalam Partai Arab Indonesia pada 1936); zaman pendudukan Jepang (“bayonet serdadu Jepang itu ditempelkan di perutku”, kisahnya, lalu tertawa renyah, puluhan tahun setelah kejadian mengerikan itu); periode kemerdekaan (“dulu enggak membayangkan rasanya seperti apa merdeka…”): revolusi fisik, hingga masa-masa genting 1965 (“ada temanku di kantor yang jadi aktivis buruh yang diculik dan enggak pernah kembali”).
Dibesarkan keluarga besarnya di Palembang yang menyadari pentingnya pendidikan, dia sekolah di yayasan Kristen, Methodist. “Tapi sorenya, aku belajar Al-quran,” ungkapnya, suatu saat.
Pada pertengahan 1930an, dia aktif di organisasi kepemudaan onderbouw Pergerakan Arab Indonesia (PAI), yang mendukung Indonesia merdeka. Di periode pergerakan inilah, dia diajak mentor politiknya untuk mengikuti acara-acara Nahdlatul Ulama (NU).
Sempat belajar jurnalistik di Medan, dia menjadi pegawai penerangan di Jambi di masa pendudukan Jepang. Walau “ikut” Jepang, dia rajin mendengarkan berita-berita radio dari negara-negara antifasis – “Kita sembunyikan radionya di atap rumah. Kalau ketahuan Kempetai, aku bisa digantung…”
