- Di tahun 1930an, Ahmad – bersarung dan berkopiah hitam – menekuni pelajaran sekuler, termasuk mempelajari Injil, di sekolah milik Yayasan Kristen, Methodist, di Palembang. “Kalau sore, baru belajar Al-quran..”
- Diabadikan di halaman rumah keluarga besarnya di Palembang, sekitar 1969 atau 1970, dia berpeci yang dimiringkan ke kiri – “mirip Musso ‘kan,” ujarnya suatu saat. Adapun yang dipangkunya adalah “dua muridnya di pelajaran sejarah”, saya (yang memelorotkan badannya, barangkali ogah diajak salat Jumat 😁😁) dan kakakku.
- Setelah pindah ke Malang, dia melanjutkan profesinya sebagai guru. Dia mendirikan kursus Bahasa Inggris “Minerva Institute” di salah-satu ruangan rumah kami. Ahmad di meja kerjanya pada 1984.
Baca Juga:Sawit dan Jalan Kampung Kami
