Oleh: Yusriadi
Rabu (28/2) saya dan sejumlah anggota Club Menulis melintas di Jalan Diponegoro, Pontianak. Jalan di pusat kota itu seperti disulap menjadi tempat berkumpul ribuan orang.
Malam itu sekitar pukul 19 saya tiba di sana. Sejak melintas di Gajahmada suasananya sudah terasa beda dibandingkan hari biasa.
Kendaraan dan manusia cukup padat. Lampion warna merah menambah semarak.
Di persimpangan Diponegoro – Gajahmada, kepadatan dan kemeriahan makin terasa. Ada barisan panjang kendaraan.
Saya menimbang saat parkir kendaraan. Di mana-mana di pinggir jalan jadi tempat parkir. Pilihannya, parkir di persimpangan atau tepat di gerbang masuk jalan Diponegoro atau di tempat lain. Pada akhirnya saya pilih parkir di depan ruko di deretan lapak mie tiaw. Saya pikir, lebih mudah keluar jika hendak pulang.
Di tempat itu banyak motor yang sudah terparkir. Seorang lelaki mengarahkan saya agar meletakkan kendaraan agak masuk ke dalam, karena di sana ada kosong. Bagian pinggir jalan, kiri kanan barisan motor, padat.
Wes, saya tinggalkan motor, menyeberangi jalan, menuju lokasi pertemuan di Rumah Makan Beringin.
Allah… keramaian festival luar biasa. Jalan dipadati manusia. Orang jualan juga sangat-sangat banyak dan macam-macam jenisnya.
Mau berjalan susah. Berdesak-desakan. Bahkan sewaktu berjalan pulang sekitar pukul 21.00, jalannya padat merayap. Jalan kaki saja macet.
