Opini

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Oleh: Nur Iskandar

Sesiapa saja yang melewati ruas Jalan Ahmad Yani–depan TVRI–atas bumbung Gedung Olah Raga (GOR) Pangsuma Pontianak sejurus waktu di awal Februari 2019 pasti akan menoleh ke balon kubus yang melayang-layang di udara.

“Ini kegiatan apa? Launching produk elegan seperti mobil bukan, gejet canggih pun bukan, namun punya balon udara yang mengesankan keistimewaan?” Saya berdecak kagum. Tulisan pada balon udara itu: Sedekah Akbar. Sesuai arah mata angin, balon udara itu mengambang bak melambai-lambaikan tangan.

Pada hari Sabtu, 2 Februari, sehari sebelum gawe Sedekah Akbar saya berkunjung ke Mesjid Kapal Serdam.
“Bang Nur’Is ikotlah acara Sedekah Akbar besok. Datang bada zohor jak,” kata Ustadz Lukman. Lukmanul Hakim adalah ulama muda yang luar biasa, alumni Gontor dan memimpin Pondok Pesantren Munzalan Ashabul Yamin yang digandrungi kawula muda Bumi Khatulistiwa. Sedekah Akbar adalah salah satu ide besutannya yang selalu dihadiri ribuah orang.

“Insya Allah saya hadir Stadz,” kata saya yang ketika itu membawa Bang Man untuk “convert to Islam” ke Munzalan. Kami sempat foto bersama dengan latar belakang pintu masuk utama Mesjid Kapal Serdam.

***