“Kami mulai ikhtiar mengumpulkan sedekah beras. Kemudian berjumpa Ustadz Nur Hasan yang mengajak bergabung di Mesjid Munzalan,” tutur pria tinggi besar, pendiam yang akrab disapa Om Phie.
Saya menikmati film dokumenter itu dengan haru. Apalagi Ustadz Luthfie adalah salah satu imam di Mesjid Kapal Serdam bersuara merdu laksana Syech Toha Aljuneid. Pada suatu waktu shalat berjamaah, Ustadz Luthfi mengalunkan QS An Naba, jamaah yang memenuhi Munzalan tersedu-sedu menahan isak tangis dan cucuran air mata karena begitu lembut dan indahnya.
***
“Sekarang santri-santri bise makan enak ndak?” Koor jawaban santri atas pertanyaan Ustadz Lukman dari atas pentas, “Makan enaaaaak…..”
“Bise makan es krim ndak?”
“Biseeeee…..”
“Bise jalan-jalan ke Mall ndak?”
“Biseeee…..”
Koor jawaban para santri dengan kompak. Dan itu semua menurut Ustadz Lukman adalah berkah Allah melalui kebersamaan para orang tua asuh yang sejak 12 tahun lalu menyisihkan uangnya sebesar Rp 25 ribu per bulan dalam rangka menyantuni santri, yatim, penghapal Quran.
