Opini

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

“Maok ke mane Bang?”

“Maok masok sih, tapi dah padat. Udahlah, nak ke parkir yak. Hari pon ujan.”

“Jangan Bang. Sayang. Masok sinek yak lah. Pintu masok panitia. Bang Nur Hasan ade di dalam.”

Saya dipersilahkan masuk. Sang Paskas mengangkat sebuah kotak properti panggung. Dan benar, rrruar biasa. Seluruh lapisan tempat duduk yang biasa digunakan menonton pertandingan olahraga penuh sesak. Lorong-lorong jalan pun terisi penuh. Massa berjubel tak lekang oleh panas dan hujan. Panggilan iman dominan. Aral melintang tak jadi penghalang. Di sinilah bahasa iman bicara lantang. Jiwa merekah. Hati mengembang. Dzikir tanpa terasa melelehkan bulir air mata. Subhanallah…

“Bapak Ibu tolong merapat ke depan agar yang di belakang bisa masuk,” kata Panitia dengan sopan. Massa pun cepat menyesuaikan sehingga massa berdesakan di belakang pintu masuk menyusut dapat tempat.

Dari arah pintu masuk saya mendengar teriakan, “Allahu Akbar. Allahu Akbar. Masuk….masuk….”. Massa di luar mendesak masuk seperti ingin menyaksikan artis kondang ibukota. Padahal ini diametral dari panggung artis kondang, ini ajang doa bersama yatim dan hafidz Quran. Momentum bersedekah untuk hamba Allah yang mulia karena menghapal firman ilahi, teks ayat-ayat suci.