Opini

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Doa yang dilantunkan santri yatim dengan narasi terbata-batan membuncahkan air mata. Hafidz tuna-netra pun hadir mengaminkan segenap doa. Istijabah. Insya Allah. “Silahkan bapak-ibu-hadirin dadirat sekalian berdoa masing-masing, apa-apa yang belum kita munajadkan,” timpal Ustadz Lukman seraya menguraikan tiga dimensi doa. Tiga dimensi doa itu meliputi berdoa seorang diri, mengaminkan doa orang lain, dan ketiga minta didoakan. Tiga dimensi doa ini mengajarkan bahwa sebagai diri tidak boleh sombong, sebab kita tidak tahu dari mulut siapa doa itu diistijabah Allah SWT.
***
Hujan di luar GOR sama derasnya dengan hujan air mata dalam tausiah dan doa. Kalau di luar GOR pertanda turunnya rahmat Allah dari langit, sedangkan air mata doa laksana butir mutiara begitu indah.

“Kalau hati lapang? Rizki datang. Kalau hati sempit, rezeki sedikit,” ujar Ustadz Lukman yang ditirukan berulang-ulang oleh massa laksana gelombang. Apalagi ketika menyebutkan kalau hati lapang, kedua tangan digerakkan mengembang. Begitupula ketika menyebutkan hati sempit, jari mengatup bagaikan kepalan genggam di atas dada, lalu saat menyebut rezeki sdikit, induk jari mengetis kuku di jari kelingking. Massa pun GeeRR merasakan geli sendiri.