Opini

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Alhasil tepat pukul 15.00, lima menit sebelum azan Ashar, acara sedekah akbar pun usai. Massa laksana air bah di dalam GOR surut dengan tertib. PASKAS bekerja rrruar biasa disiplin. Mengatur arus keluar ribuan jamaah tanpa ada cacat dan cela. Padahal mereka sudah bekerja keras sejak tiga bulan terakhir.
Saya terkagum-kagum dengan sebuah even sedemikian besar dan meriah. Di akun FB saya tuliskan sebuah kalimat, “Ada sesuatu yang sedang dirindukan oleh umat….”

***

Di dalam kendaraan menuju pulang kami memuji sukses besar acara dan berharap terus membesar. “Saya tadi hampir pingsan Bang Nuris. Terjepit di tengah massa dan udara terasa sesak,” ungkap seorang pengacara Fitri.

“Saya benar-benar menikmati acara doa bersama yatim dan para penghapal Quran. Semoga menjadi amal jariyah kaum muslimin dan muslimat,” kata Dwi Syafriyanti seraya mengenang betapa sulitnya mencapai posisi duduk di dalam GOR. Namun semua terbayar dengan sangat memuaskan.

“Tadi nyumbang berapa untuk hafidz Quran yang hendak diberangkatkan umroh gratis?”

“Ada dech kata Dwi. Kita ambil infak beras Rp 100 ribu per bulan ya…”

Balon sedekah akbar melayang-layang di udara. Ekor mata saya masih sempat menangkap sebelum kami terus menjauh.