Opini

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Sementara di panggung, hafidz 30 juz menunjukkan kemampuan hapalannya dipandu master of ceremony Bang Een. Saya berdecak kagum melihat massa yang tumpah. Kagum karena siapakah yang menggerakkan ribuan massa ini kalau bukan Tuhan?

Tak sanggup duduk bersama tetamu VVIP. Saya duduk bersama para hafidz Quran. Lapis ketiga dari depan panggung, di belakang tetamu VVIP yang berdatangan dari Makassar, Belitung, Malang, berbagai kota besar di Indonesia, hingga Kuching, Sarawak, Malaysia. Saya duduk di kursi plastik warna biru. Di raw kiri saya para hafidz tuna netra. Di kursi sebelah, kiri-kanan dan belakang adalah santriwan pondok penghapal Quran. Seorang santri murah hati bersedekah es krim buat putra saya. Alhamdulillah, indahnya berbagi.

Beberapa meter di sisi kanan saya lampu proyektor gagah menyinari pentas dari posisi atas. Di sana ada kameramen yang bertugas merekam aktivitas di pentas. Bajunya kaos hitam. Saya duga mereka juga mengenakan kostum Paskas.

Ada juga petugas IT yang mengganti slide presentasi–Ustadz Luthfi. Teristimewa ada ulama muda berbaju koko merah marun, KH Lukmanul Hakim.