Opini

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Sedekah Akbar dan Musibah Balon Terbakar

Usai zuhur berjamaah di Mesjid Jamiatush Sholihin Purnama Agung VII, saya bersama keluarga bersiap ke acara Sedekah Akbar. Kami mengambil jalur Jalan Parit Demang menuju Untan demi menghindari kemacetan.
Benar saja, jalur Ahmad Yani macet. Kendaraan merayap. Motor parkir berlapis sejak jembatan yang memisahkan Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak dengan GOR.

“Pak apakah masih bisa parkir mobil di dalam?” Polisi lalu lintas menggelengkan kepala. Sempritan pluit terdengar menjerit-jerit. Banyak orang yang harus diatur mengurai kepadatan pengguna jalan.

Jalur masuk GOR menjadi begitu sempit. Mobil tak mungkin bisa masuk. Pedagang menjamur. Jamaah meluber. Di sisi kiri jalan protokoler mobil parkir tak putus sampai ke Mesjid Raya Mujahidin. Sebagai insan pers saya familiar untuk parkir di halaman dalam TVRI. Strategis.Tak jauh. Mumpung masih sepi. Alhamdulillah aman dan nyaman. Menuju GOR Pangsuma tinggal menyeberang.

***

Balon udara Sedekah Akbar mengambang di angkasa. Banyak orang terpancing untuk melihat sesuatu yang di atas sana. Mungkin begitu adanya tentang hukum pandangan. Tertarik kepada sesuatu yang bergerak.
Sadar bahwa saya harus melintasi jalur arteri yang macet, mata harus awas. Apalagi saya menggendong putra kecil 3,5 tahun. Ekstra hati-hati. Melangkah setapak demi setapak.