Ternyata untuk bisa masuk ke dalam GOR tidak mudah. Seluruh pintu diserbu jamaah. Saya melihat ibu-ibu berdesak-desakan. Dari celah kerudung yang aneka warna, saya bisa mengintip suasana riuh-rendah di dalam arena. Wuih penuh!
Sebagai wartawan, saya mengabadikan momen berjubelnya manusia di pintu masuk dengan sebuah jepretan. Pict itu saya unggah ke laman FaceBook dengan teks, padatnya seperti mau melempar jumroh…
***
Ingat haji di Tanah Suci, saya berkesiap dengan segenap resiko yang bisa terjadi “arus balik”. Seperti Tragedi Mina di Terowongan Almuaishim Billah. Saya putuskan untuk keluar dari antrean. Apalagi gerimis mulai turun membasahi kopiah. Manajemen resiko berlaku di sini. Menghindari bahaya lebih utama daripada mengejar kebaikan.
Saya menyingkir. Istri yang beberapa meter berada di depan, saya doakan semoga aman masuk, terlindung dari hujan, dan dapat menikmati acara dengan khusuk, selamat dari desak-desakan. Saya balik kanan dengan tujuan berlindung di dalam mobil sampai acara kelak selesai.
Alhamdulillah untung dapat diraih, malang dapat ditolak, saya yang sedang menuju arah ke luar berjumpa panitia berbaju kaos hitam bertuliskan aksara putih PASKAS (Pasukan Khusus Amal Sholeh). Sebuah kata yang membawa imajinasi kepada pasukan elit TNI seperti Denjaka, Gegana, dan Kopassus.
“Bang Nur’Is adeknye Bang Nur Hasan kan?” sapa Paskas.
“Iye…”
