Opini

Memikul Amanah, Merangkai Jejak

Memikul Amanah, Merangkai Jejak

Oleh Dr. KH. Tatang Astarudin

Mengenang jejak yang telah ditapaki sejak 13 Juli 2007, hati ini bergetar. Ada optimisme yang tak terucap: “Insya Allah, mimpi besar umat perlahan akan menjadi nyata.”

Delapan belas tahun lalu, lahir sebuah lembaga yang telah lama dinanti. Lembaga yang diberi amanah untuk menjaga setiap jengkal tanah, menghimpun setiap rupiah, meredam setiap amarah, dan menyatukan setiap niat tulus untuk memperkuat marwah bahwa umat ini memiliki kontribusi dan harga diri, sebagaimana telah teruji dalam jejak sejarah.

Di awal, kita merangkak, menapaki regulasi yang terseok, menegosiasi batas kewenangan, sambil menumbuhkan kepercayaan umat yang masih rapuh. Namun sedikit demi sedikit, napas kolektif itu mulai terhirup; harapan dan kepercayaan mulai diberikan. Orang-orang baik berdatangan, pemangku kepentingan mengajak bergandengan tangan.

Dalam perjalanan itu, kita menyadari bahwa wakaf bukan hanya urusan seremonial. Alih-alih menjadi sekadar titipan pasif, ia harus bergerak, berdenyut, memproduksi manfaat nyata. Dari tanah tidur di pelosok desa hingga gedung perkantoran produktif di kota, setiap aset harus diabdikan untuk kesejahteraan bersama.