Opini

Memikul Amanah, Merangkai Jejak

Memikul Amanah, Merangkai Jejak

Kita hadirkan instrumen inovatif dan kerja kolaboratif, supaya amanah yang kita pegang tidak hanya aman, tapi juga produktif. Kesadaran ini kian berkembang saat gelombang digital merayap ke seluruh sendi kehidupan: platform wakaf online, aplikasi pelaporan real time, dan integrasi data antarlembaga melahirkan gelombang partisipasi generasi muda yang haus akan kemudahan.

Namun, di balik semarak angka dan capaian, ada desah kegelisahan. Dari potensi wakaf uang yang tercatat hingga ratusan triliun rupiah per tahun, realisasinya masih berkutat di kisaran tiga triliunan. Artefak besarnya menggoda rasa bangga, namun menyisakan tanya: mengapa “raksasa tidur” itu belum sepenuhnya terbangun?

Di sanubari ini bergema panggilan lirih: literasi wakaf harus terus dikobarkan, bukan hanya lewat media cetak dan seminar, melainkan lewat cerita inspiratif yang menyentuh setiap lapis hati.

Di antara luka sunyi yang terus membebani pundak hingga kini adalah sertifikasi aset wakaf. Hampir setengahnya belum tercatat secara resmi, berpotensi lenyap atau terseret sengketa ambisi. Dalam hening malam, terbayang wajah orang-orang yang menanti manfaat wakafnya. Bayangan itu membangunkan kesadaran bahwa tugas kita belum tuntas. Kita memerlukan tambahan barisan nazhir profesional—bukan relawan setengah hati. Pelatihan, sertifikasi, dan akreditasi mesti dibentang seluas mungkin, supaya setiap aset yang terjaga benar-benar mampu menjawab kebutuhan laik hidup masyarakat.